
Langkah Estelle terhenti ketika sudah akan tiba di depan Apotek Jingga. Manik mata cokelat gelapnya menembus jendela Apotek untuk memperhatikan Orion yang sedang melayani pelanggan. Pikiran Estelle kembali berkecamuk dengan masa lalunya bersama Javier. Kemarin, Estelle kembali menemui psikiater yang selalu rutin dikunjungi tiga kali dalam sebulan. Kondisi Estelle sudah mulai membaik namun dia kembali mengalami mimpi buruk soal kejadian di hari kematian Javier. Selain itu, dia mulai berhalusinasi soal kehadiran pria itu di sampingnya termasuk mendengar suaranya.
“Senyum kalian sangat mirip.” ucap Estelle ketika melihat senyuman Orion pada pelanggan. Dia terus memandangi pria itu ketika pelanggan sudah keluar dari apotek lalu melihat Orion melirik jam tangan.
Mata Orion bergerak keluar jendela lalu menangkap tatapan mata Estelle. Pria itu langsung menyunggingkan senyuman yang membuat tubuh Estelle bergerak untuk menghampirinya. Dia sampai di hadapan Orion “Hai Orion.”
Sinar matahari semakin berubah menjadi jingga ketika jam menunjukkan pukul 5.55 sore. Dua manusia itu duduk saling berhadapan di kursi tunggu apotek yang kosong. Sudah lima menit berlalu ketika Estelle mengeluarkan airmata seraya tangan Orion menepuk punggungnya perlahan.
“Namanya Javier.” Estelle menghela napas panjang “Seniorku di kepolisian. Kami menjadi dekat ketika aku masuk ke unit kejahatan dan kekerasan. Hanya dia yang menganggapku masih seorang wanita di tengah unit ini sehingga dia sering melindungiku. Dia lembut tapi bisa menjadi tegas sekaligus keras.”
Artikel yang sesuai:
Orion tidak memberikan komentar, dia membiarkan Estelle bicara “Tidak butuh waktu lama, kami memutuskan berpacaran. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama di lapangan untuk menangkap penjahat dan ketika di kantor harus membuat laporan. Tapi kami selalu menikmati setiap waktu yang dilalui bersama.” Estelle mengulum bibirnya ketika titik air mata mulai keluar.
Suasana menjadi hening sejenak ketika mata Estelle menatap langit sore dan Orion juga mengikuti arah mata Estelle untuk menatap langit “Javier meninggal dunia dalam tugas pengejaran teroris di Poso, tiga tahun lalu. Aku kehilangan Javier, senyumannya, kehangatannya dan semua perasaan cinta yang dia berikan untukku.” Estelle terisak “Aku kehilangan semuanya termasuk hidupku.”
Estelle kembali menangis “Aku pergi ke psikiater tiga kali dalam sebulan karena aku mengalami trauma yang sangat parah. Aku terus mengingat kejadian ketika Javier meninggal, sering berhalusinasi melihat Javier bahkan mendengar suaranya. Aku tidak bisa melupakan Javier.”
Tangan Orion kembali menepuk punggung Estelle perlahan “Kondisiku semakin membaik ketika bertemu denganmu.” tangan Orion berhenti dan Estelle melanjutkan bicara “Ketika melihat sosokmu yang ada di dalam apotek, aku langsung teringat dengan Javier. Gerak langkah, senyuman dan kelembutanmu mengingatkanku padanya. Maafkan aku karena alasan yang sebenarnya aku datang ke sini karena sosokmu mirip sekali dengan Javier.”
Orion menyunggingkan senyuman tipis lalu kembali menepuk punggung Estelle “Menangislah karena sepertinya kamu sudah lama tidak menangis.” mendengar ucapan Orion, air mata mengalir dengan deras di wajah Estelle. Ucapan Orion benar karena Estelle sudah lama tidak menangis. Dia hanya bisa memendam perasaan sedih dan kecewa seraya trauma terus membayangi kehidupannya.






