Cerpen – Apotek Jingga by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Cerpen - Apotek Jingga by Rachel Grifith Charisa

Ucapan Estelle terbukti ketika wanita itu membuka pintu apotek ketika matahari akan segera terbenam. Estelle duduk di kursi tunggu karena masih terdapat tiga pelanggan yang mengantri. Manik mata cokelat gelap Estelle terus mengamati pergerakan Orion yang sedang melayani pelanggan.

“Silahkan selanjutnya.” suara apoteker wanita membuyarkan pengamatan Estelle lalu wanita itu melangkah namun tetap menatap Orion.

“Ada yang bisa dibantu?” apoteker wanita itu terkejut melihat hidung dan bibir Estelle berdarah “Anda baik – baik saja?” Orion yang sedang menyerahkan kantung obat pada pelanggan, melirik Estelle lalu kembali melihat wajah wanita itu memiliki noda darah lagi.

“Aku baik – baik saja. Ini udah biasa kok.” Estelle tertawa kecil lalu melihat Orion yang sudah selesai dengan tugasnya menepuk pundak apoteker wanita itu “Biar saya saja.” walaupun bingung dengan tindakan Orion tapi apoteker itu berkata “Iya Pak.” lalu dia mengundurkan diri.

“Hai.” sapa Estelle ramah disambut senyuman tipis Orion “Ternyata betul kamu datang ke sini lagi.” Estelle mengangguk “Tentu donk. Aku terluka selain itu kantorku emang dekat sini.”

Senyuman terulas di wajah Orion yang membuat Estelle meneguk saliva “Apa kali ini obat yang sama?” Estelle hanya bisa menjawab dengan anggukkan.

Seraya mempersiapkan obat, Orion penasaran akan sesuatu “Apakah kamu menangkap penjahat hampir setiap hari?” Estelle tertawa kecil “Tidak kok. Kebetulan hari pertama aku datang ke sini dan hari ini, aku sedang menangkap penjahat yang susah untuk ditangkap.”

Orion memberikan kotak tisu pada Estelle “Bersihkan dulu darah di hidung dan bibirmu.” Estelle terkejut dengan tindakan Orion “Makasih.” tangan Estelle mengelap darah di bibir dan hidungnya “Aku boleh bicara santai denganmu? Sepertinya kita seumuran.” tanya Estelle.

“Boleh. Panggil saja Orion.” jawab Orion sambil memasukkan obat ke dalam kantung kertas lalu disambut ucapan Estelle “Panggil aku dengan Estelle.” Orion mengangguk lalu bertanya “Apa teman satu unitmu juga terluka?” Estelle tersenyum lebar sampai menunjukkan gigi putihnya “Sama sih. Tapi karena aku perempuan jadi lebih lemah. Aku masih harus belajar teknik menyerang.”

Orion menerima kartu dari tangan Estelle “Bukan karena kamu perempuan jadi harus kamu yang terus diserang. Seharusnya mereka bisa lebih melindungimu.” Estelle menekan tombol di mesin EDC “Kalau di kepolisian hal tersebut tidak berlaku. Aku harus bisa dengan kekuatanku sendiri.”

Kantung kertas berisi obat diserahkan Orion “Kamu dan pekerjaanmu adalah hal yang menarik.” senyuman kembali muncul di wajah Orion yang membuat Estelle mengigit bawah bibirnya “Sial, kalau tersenyum dia semakin tampan.” ucapnya dalam hati.

“Mungkin lain waktu akan kuceritakan hal yang lebih menarik lagi.” Estelle memegang erat kantung kertas “Kalau kamu ber..” sebelum ucapannya selesai, Orion sudah memotong “Aku bersedia. Kamu bisa bercerita hal menarik lainnya saat berkunjung ke apotek ini.” kemudian mereka saling melempar pandangan dan berakhir pada tawa kecil renyah di antara kedua manusia ini.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn