
Jendela apotek tidak mampu menghalangi sinar matahari sore berwarna jingga menembus sampai ke etalase yang menampilkan berbagai macam obat. Bahkan tangan Orion yang sedang bergerak lincah di etalase terkena sinar jingga “Indah sekali.” dia tersenyum melihat tangannya.
“Pak Orion, Anda tidak beristirahat dulu?” tanya seorang staff apotek yang langsung dijawab Orion “Nanti saja. Kalian duluan saja.” kedua staff apoteker pergi ke ruang istirahat.
Apotek hari ini cukup ramai karena mendapatkan limpahan pasien dari rumah sakit yang jaraknya tidak jauh dari apotek. Namun di antara pengunjung yang datang, Orion belum bertemu wanita itu. Seorang wanita yang baru sampai di pertemuan kedua tapi sudah menarik perhatian Orion.
Pintu apotek terbuka ketika sebuah suara muncul “Aku belum bertanya. Kenapa nama apotek ini adalah apotek jingga?” Orion terkejut dengan kedatangan Estelle bersamaan dengan pertanyaan yang dia ajukan sehingga Estelle tersenyum meringis “Maaf, kebiasaanku di kantor suka kubawa kemanapun.”
Orion tersenyum tipis lalu mengamati wajah Estelle “Tidak ada luka hari ini.” Estelle mengeluarkan tawa renyah “Kamu salah.” Estelle membuka jaket hitam lalu memperlihatkan luka goresan di kedua tangan Estelle “Apa lagi yang terjadi kali ini?” tanya Orion bingung.
Artikel yang sesuai:
“Kumpulan anak SMA berandal yang melakukan tawuran tadi malam. Kami berhasil menemukan mereka pagi tadi tapi mereka kabur. Terjadi kejar – kejaran di daerah Cipinang lalu mereka menyerang kami. Ternyata mereka punya senjata. Wah gila sekali anak – anak itu.” Estelle menghela napas panjang.
“Sudah dibersihkan lukanya?” tanya Orion yang langsung diberi anggukan oleh Estelle “Tapi salep antibiotiknya sudah habis. Laki – laki di kantorku yang menghabiskannya.”
Orion mengambil salep antibiotik lalu berkata “Duduklah di kursi tunggu.” pinta Orion yang langsung dituruti Estelle dan wanita itu tersenyum lebar melihat sinar matahari menerpa wajahnya “Indah sekali.”
Orion menghampiri Estelle “Sinar matahari sore yang berwarna jingga adalah alasan aku memberi nama apotek ini dengan apotek jingga.” lalu dia duduk di samping Estelle dan mulai mengoleskan salep di atas luka di tangan Estelle “Biar aku saja.” ucap Estelle karena terkejut.
Orion tidak menjawab, dia masih terus mengoleskan salep dan sesekali membuat Estelle meringis kesakitan “Aww.” Orion menatapnya “Seharusnya kamu datang ke rumah sakit bukan ke sini.”
Estelle mengulum bibir “Aku lebih suka ke sini karena hanya luka kecil selain itu aku merasa nyaman berada di apotek ini. Aneh kan.” Orion menanggapi “Aku juga merasa nyaman ketika memilih gedung ini sebagai apotek karena sinar matahari terbenam langsung menerpa hampir seluruh bagian dalam ruangan.” tangan Orion berhenti mengoleskan salep “Sudah selesai. Bekas lukanya juga harus dirawat dengan minyak penghilang bekas luka.”
Kepala Estelle mengangguk lalu Orion mengajukan pertanyaan “Apa di kantormu tidak menyimpan stok obat semacam itu?” pertanyan Orion langsung dibalas Estelle “Entahlah. Kalau di unitku sih tidak ada. Selain itu..” Estelle menghadapkan tubuh di depan Orion lalu tersenyum tipis “Aku ada alasan untuk datang ke sini beberapa hari sekali.”
Orion menarik bibirnya untuk tersenyum “Kamu, pekerjaanmu dan kejujuranmu adalah hal yang menarik bagiku.” sinar jingga matahari sore menerpa dua pasang manik mata yang saling bertemu di Apotek Jingga itu.






