Cerpen – Apotek Jingga by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Cerpen - Apotek Jingga by Rachel Grifith Charisa

Dua bulan lalu, di hari rabu sore ketika matahari sudah akan terbenam, seorang wanita dengan pakaian serba hitam masuk ke apotek yang berada di pusat kota Jakarta. Wajah wanita itu lebam juga dengan ujung bibirnya yang masih mengeluarkan darah.

“Ada yang bisa diban..” apoteker pria yang bertugas tidak melanjutkan kalimat ketika melihat hal mengerikan yang terjadi di wajah wanita itu “Anda tidak ke rumah sakit saja?”

Wajah wanita itu mengulas senyuman walaupun langsung meringis kesakitan “Sudah biasa kok. Tolong berikan aku obat merah, perban, plester, salep dan parasetamol saja.” Apoteker itu langsung menyiapkan obat yang sesuai untuk luka di wajah wanita itu.

“Andromeda Orion.” ucap wanita itu ketika membaca nama di papan petugas apotek “Apa itu nama Anda?” apoteker itu mengangguk.

“Nama kita sama.” wanita itu mengeluarkan ID card miliknya yang tertulis nama Andromeda Estelle. Namun yang membuat apoteker itu terkejut adalah institusi tempat dimana wanita itu bekerja.

Senyuman muncul lagi di wajah Estelle setelah melihat wajah terkejut Orion “Aku seorang polisi tepatnya detektif di unit kejahatan dan kekerasan.”

“Di Indonesia banyak polisi wanita tapi menjadi seorang detektif di unit kejahatan dan kekerasan adalah hal yang..” Orion berhenti sejenak lalu menatap manik mata cokelat gelap Estelle “Menarik.” kemudian Estelle bergeming karena senyuman yang dilemparkan Orion.

“Pembayaran menggunakan apa?” Orion memasukkan obat ke dalam kantung kertas lalu melihat Estelle hanya terdiam menatapnya “Mau bayar dengan apa?” tanyanya lagi yang membuat Estelle melepaskan lamunannya “Kartu.” dia mengeluarkan kartu debit lalu menyerahkan pada Orion.

“Totalnya lima puluh enam ribu rupiah, silahkan input pin.” Orion menggeser mesin EDC ke arah Estelle lalu jari wanita itu menekan tombol angka “Apa apotek ini buka selama dua puluh jam?”

Orion menggelengkan kepala “Hanya sampai jam sebelas malam.” Orion menyerahkan kartu debit serta kantung kertas berisi obat “Silahkan. Kami sudah tidak pakai kantung plastik jadi dibungkus dengan kantung kertas.”

Estelle mengangguk “Aku suka segala sesuatu yang ramah lingkungan. Terima kasih.” Orion mengangguk seraya berkata “Terima kasih dan lekas sembuh.” lalu Estelle berjalan menuju pintu keluar.

Namun langkah kakinya berhenti ketika hendak membuka pintu “Kalau aku terluka atau sakit, aku akan datang ke sini lagi.” bibirnya menyunggingkan senyuman yang membuat Orion mengerutkan kening.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn