Cerpen – Menunggu Hujan Reda by Syifa Zulfa

Cerpen - Menunggu Hujan Reda by Syifa Zulfa

Meneguk teh melati bercampur dengan manisnya gula yang tersedia di atas meja, membuatku hangat karna dinginya hujan yang turun di pagi hari. Aku duduk di teras rumah dengan buku catatan di tangan kiriku dan sebuah pena bertinta biru di tangan kananku. Ditemani terciumnya bau air hujan yang menyentuh tanah, aku ingin menuliskan kegelisahanku pagi ini.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya seorang pria berkaos hitam sambil menyimpulkan senyum manis saat aku melihatnya. Dia Aftar, teman baruku. Aku mulai berteman dengan dia sebulan yang lalu, saat keluargaku memutuskan untuk pindah ke desa ini dan menjadi tetangga Aftar.

Cerpen – Menunggu Hujan Reda by Syifa Zulfa

“Duduk saja, tak ada yang melarang.” Aku membalas senyumannya, menutup buku yang ku genggam lalu menyeruput teh melati kembali.

“Kamu sedang apa? Apa aku menggangu belajarmu?” Aftar merapatkan payung yang dia bawa, lalu duduk di kursi yang berada di sebelahku yang terhalang oleh meja kayu berbentuk bundar.

“Ah, tidak. Buku ini bukan untuk aku pelajari. Hanya saja aku ingin menuliskan suatu rangkaian kata di buku ini.”

“Kamu gemar menulis, ya?  Aku sering melihat kamu membagikan puisi-puisimu di media sosial. Puisi-puisimu bagus.” Aftar mengukir senyumnya kembali.

Aku memang sering menulis, menulis puisi misalnya. Puisi-puisi itu aku bagikan di media sosial juga. Sebenarnya puisi-puisi itu hanya tentang perasaan dan harapanku. Walau awalnya tidak percaya diri dari apa yang aku tulis, aku ingin memberanikan diri untuk terbuka dan mengepresikan emosi di dalam karya-karyaku itu. Aku senang saat ada orang bisa mengapreasiasi tulisanku, apa yang dikatakan Aftar itu membuatku semakin semangat untuk menulis puisi.

2 komentar untuk “Cerpen – Menunggu Hujan Reda by Syifa Zulfa”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *