Cerpen – Ada Apa Dengan Ansel by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Cerpen - Ada Apa Dengan Ansel by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Sore ini, di pinggir Sungai Han, wanita yang diajukan pertanyaan oleh Ansel kemarin malam, menghentikan dorongan kursi roda ketika Hana mengarahkan kursi roda untuk menghadap pada sungai. Hana mendudukkan diri di atas rerumputan lalu bertanya “Apa yang membuat Anda bertanya apakah aku mau menemani Anda?”

Manik mata hitam gelap Ansel berpendar terkena cahaya jingga dari langit “Kamu adalah wanita yang penuh ekspresi.

Setiap bersamamu, pikiranku selalu bertanya – tanya ekspresi apa yang sedang kamu tunjukkan. Aku sempat membaca buku mengenai emosional manusia tapi aku tidak sepenuhnya paham. Namun ketika melihat bibirmu tertarik untuk membentuk sebuah senyuman, aku belajar untuk melakukannya juga.

Karena itu di kantin dua hari lalu, aku mempraktikkannya untuk pertama kali ketika menanggapi ucapan Pak Peter.” pernyataan panjang dari Ansel ditutup dengan ucapan “Karena itu aku ingin kamu membantuku untuk mengenal emosi lain dalam hidup ini. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara meminta pertolongan yang tepat sehingga aku bertanya apa kamu mau menemaniku.”

Tawa Hana sempat terlempar sejenak sebelum berkata “Anda bertanya seperti itu seakan – akan seperti mengajak untuk hidup bersama.” Ansel menatap Hana “Kalau begitu, bagaimana kalau kita hidup bersama?” Hana terkesiap dengan pertanyaan Ansel “Pak Ansel, Anda paham kan kalau hidup bersama itu artinya menghabiskan hari dan waktu secara bersamaan dalam suatu tempat dan kondisi yang sama?”

Ansel mengangguk “Aku paham.” namun Hana tidak memahami maksud dari Ansel “Tapi kenapa Anda bertanya padaku bagaimana kalau hidup bersama? Itu artinya kita akan tinggal dalam satu tempat bersama – sama.” Ansel mengangguk lagi “Kalau kamu setuju untuk menemaniku itu tidak hanya di kantor saja tapi juga di rumahku atau ketika aku berada di tempat lain.”

Wajah Hana berubah merah karena malu setelah mendengar ucapan Ansel “Apa pria ini sedang mengajaknya menikah atau dia tidak paham apa yang sedang dibicarakannya?” gelisah muncul di hati Hana apalagi ketika tangan Ansel memegang tangan Hana “Kamu adalah wanita pertama yang tidak menjauh dariku ketika aku tidak mampu memahamimu.

Kamu adalah wanita pertama yang tersenyum lebar padaku bahkan ketika aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.” tangan Ansel merengkuh dengan lembut tangan Hana “Temani dan ajari aku, Hana.” hati Hana langsung menghangat mendengar ucapan tulus dari seorang pria yang dijuluki psikopat ini.

Mata Hana terangkat ke atas bersamaan dengan pipi putih selembut kapas, diikuti dengan bibir yang tertarik sempurna menampilkan senyuman “Aku mau menemanimu, Pak Ansel.”

Penulis: Rachel Grifith Charisa Wijaya

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn