
Ketika mata Hana melirik Ansel, dia mendapati kalau mata pria itu terpejam sempurna. Kepala bersandar pada kursi dengan tangan terlipat di depan dada. Semilir angin malam menembus jendela yang sedikit terbuka membuat rambut hitam pekat pria itu terjatuh ke kening. Hana mengangkat tubuh untuk menutup jendela perlahan lalu mengambil selimut yang terdapat di meja kerjanya yang memang disiapkan kalau dia tidur di kantor.
Perlahan, Hana membentangkan selimut berwarna biru langit itu ke atas tubuh Ansel. Wanita berwajah mungil itu tidak ingin membuat Ansel terbangun jadi dia melakukannya dengan hati – hati. Ansel pasti kelelahan karena sudah seminggu mereka pulang malam bahkan menginap di kantor. Berbagai macam berkas kasus datang menghampiri meja kerja bersamaan dengan sidang dengan jadwal padat. Semenjak Ansel datang, pekerjaan semakin bertambah karena Kepala Jaksa lebih banyak menyerahkan pekerjaan pada Ansel dan tim. Ansel tidak mengeluh apalagi marah, dia hanya menerima pekerjaan dan berusaha menyelesaikannya.
“Kenapa Anda terus menerima kasus yang dilimpahkan dari tim lain ke tempat kita? Anda kan bisa menolak?” seru Hana pada awal minggu ini, setelah Kepala Jaksa kembali menyerahkan kasus.
Ansel tidak menjawab, pandangan mata masih terfokus pada berkas. Hana mendengus kesal “Pak Ansel!” seruan Hana mengundang atensi Ansel juga dengan Peter yang tahu kalau Hana sedang marah.
Kepala Ansel mendongak “Kalau kita menolak, kasus ini tidak akan selesai.” Hana mengerutkan kening “Apa maksud Anda? Memang tidak ada tim lain yang mau mengerjakan kasus ini?” Hana beringsut ke hadapan Ansel “Apa Anda ingin menjadi jaksa terbaik seperti di Mapo?” namun setelah berkata demikian, Hana menyesali perkataannya yang terlalu kasar.
Manik mata hitam Ansel menangkap manik mata cokelat gelap Hana namun tidak memahami ekspresi yang Hana tampilkan padanya “Tujuan saya datang ke kantor ini bukan untuk menjadi jaksa terbaik tapi menyelesaikan kasus karena ini menjadi tanggung jawab seorang jaksa serta polisi.” dalam ucapan yang dalam itu tidak ada nada marah, kesal atau menggurui. Hana terdiam seraya Ansel kembali fokus pada berkas di meja.
Artikel yang sesuai:
Ingatan Hana kembali pada situasi itu ketika dia harus melemparkan kalimat sarkasme pada atasannya sendiri yang bahkan tidak membalas dengan nada serupa. Hana menopang dagu di atas meja kerjanya sambil menatap Ansel “Ada apa dengan dirimu, Pak? Kenapa Anda tidak pernah marah atau mengeluh?” untaian kalimat itu terucap di hati Hana.
Langit berwarna jingga kemerahan karena matahari akan kembali ke peraduan tercetak jelas di manik mata Hana yang mengerjap senang. Setelah menyelesaikan beberapa kasus dalam waktu seminggu dan mengikuti sidang dengan jadwal yang padat, Hana bisa menikmati minum kopi sore hari di salah satu kafe yang tidak jauh dari kantornya yaitu gedung kejaksaan distrik Gangnam, Seoul.
Ansel menopang dagu memandangi wanita yang terus mengerjapkan mata dan sesekali menyunggingkan senyuman. Pria itu sering melihat wanita ini menampilkan wajah dengan berbagai ekspresi yang tidak dipahami oleh dirinya. Namun ekspresi yang paling sering terlihat adalah senyuman di wajah.
Entah kenapa senyuman di wajah itu seperti membuat Ansel terbius untuk diam dan tenang.
Tangan wanita itu bergerak untuk mengambil cangkir kopi dan menyesap sejenak sebelum dia menangkap pandangan mata seorang pria tertuju padanya. Hana terkejut kalau Ansel sedang memandanginya bukan hanya sekedar menatap asal seperti biasa namun sebuah pandangan yang seperti penuh keingintahuan.
“Ada sesuatu yang salah dari wajahku?” Hana menunjuk wajah namun Ansel langsung menjawab “Tidak ada.” alis mata Hana bertaut lalu berkata “Bagaimana rasa kopi di sini? Enak kan?” Ansel mengangguk, Hana tersenyum lagi yang menarik atensi Ansel.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” Hana mengajukan diri untuk memulai percakapan karena tidak ada konversasi di antara mereka sejak datang ke kafe. Ansel mengangguk untuk memberi persetujuan yang membuat Hana langsung bertanya “Apa yang membuat Anda memilih karir sebagai jaksa? Aku membaca biodata Anda pernah kuliah arsitektur sebelum mendalami dunia hukum.”
“Tidak ada alasan khusus tapi aku tidak dapat melanjutkan pekerjaan di dunia arsitektur.” mendengar jawaban Ansel, Hana semakin penasaran “Apa alasannya?” Ansel melihat kerjapan mata Hana “Seseorang memberikan nasihat padaku kalau aku tidak dapat memberikan sebuah nyawa pada gambar yang aku buat.
Sehingga dia memberikan saran agar aku mempelajari hal lain yang tidak perlu nyawa atau rasa dalam proses pengerjaannya.” sedikit terkejut dengan jawaban Ansel, Hana kembali bertanya “Menurut orang yang memberikan Anda saran, menjadi jaksa adalah pekerjaan yang tidak memperlukan perasaan?”






