Cerpen – Ada Apa Dengan Ansel by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Cerpen - Ada Apa Dengan Ansel by Rachel Grifith Charisa Wijaya

“Dia adalah jaksa terbaik dari distrik Mapo, saya harap kalian bisa bekerja sama sehingga unit kejahatan khusus bisa mencapai nilai yang sempurna.” mata bulat cokelat Pak Charles berkeliling memandangi Hana, Peter dan Anne yang membuat Hana membuka suara “Baik Pak. Kami akan lakukan yang terbaik bersama dengan Pak Ansel.” Hana menyunggingkan senyuman sembari menatap Ansel namun pria itu tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Bahkan ketika Pak Charles untuk kesekian kali menepuk pundak Ansel bersamaan dengan tawa renyah dari Peter, pria itu masih bergeming. Hanya sekedar menundukkan kepala tanpa memberikan balasan senyum apalagi ikut tertawa. Kening Hana berkerut “ada apa dengan pria ini?”

Dua tangan kurus membawa tumpukan empat berkas tebal yang membuatnya mendengus kesal “Kenapa aku bisa lupa membawa troli sih?” rutuknya pada diri sendiri sampai seorang laki – laki bersama dengan wanita yang seumuran dengannya menghalangi jalan “Hana, ada apa sih dengan boss kamu?” tanya yang laki – laki terlebih dahulu sebelum yang wanita juga ikut menimpali “Apa dia enggak bisa lebih fleksibel? Kenapa harus mengatakan kalau jaksa muda harus bekerja lebih cerdik dalam menilai suatu perkara? Dia pikir kita tidak bekerja dengan baik?”

Setelah dibuat kesal oleh dirinya sendiri sekarang ada dua manusia lain yang membuat Hana bertambah kesal namun dia masih berusaha merangkai kata untuk menjawab pertanyaan mereka. Tapi sebelum Hana menyelesaikan rangkaian kata, wanita bernama Denise itu kembali berujar “Kami tahu kalau dia jaksa terbaik dari distrik Mapo tapi sikapnya sungguh menyebalkan. Terlalu kaku dan tidak pernah menunjukkan ekspresi wajah apapun. Dia psiokpat?” Hana memutar manik mata hitam legap yang terbungkus dalam garis mata tipis lalu berkata “HEI! Kalian tidak sadar bicara kalau sedang berbicara dengan orang yang sedang kesusahan membawa berkas?”

Baik Denise dan laki – laki bernama Harold terkejut dengan luapan amarah Hana yang sekarang menatap mereka kesal “Kalau kalian kesal dengan Pak Ansel, katakan sendiri padanya. Aku tidak suka membicarakan orang lain di belakang.” napas Hana menderu setelah menyampaikan pembalas yang setimpal. Lalu dia mulai melangkah menuju ruangan ketika langkahnya terhenti ketika melihat Ansel berdiri sambil menatap ketiga orang yang baru saja melakukan konversasi sengit.

“Pak Ansel.” ada nada terkejut dalam ucapan Hana. Ansel berjalan mendekatinya, mengambil tumpukan berkas di tangan Hana “Kita harus ke kantor polisi sekarang.” dia menatap Hana tanpa ekspresi lalu kembali berjalan menuju ruangan tanpa menatap Denise dan Harold. Hana dibuat takjub dengan tindakan Ansel yang pasti mendengar pembicaraan mereka namun tidak mengatakan apapun.

Wanita itu hanya menggelengkan kepala heran karena sudah berulang kali dia mendapati Ansel mendengar banyak orang membicarakannya namun dia tetap bergeming tanpa bicara untuk membalas ucapan mereka. Ekspresi yang tercetak di wajah Ansel tidak menunjukkan kalau dia marah, kecewa atau sedih. Hana sudah mendapati kondisi seperti itu selama dua bulan bekerja dengan Ansel. Bahkan ketika Ansel diumpat oleh polisi yang bekerja sama dengan mereka, Ansel tetap bergeming. Dia hanya menatap mereka sambil melanjutkan pekerjaan. Ada apa dengan Ansel?

“Kenapa kalian selalu menganggu pekerjaan kami?” telinga Hana kembali mendengar ucapan bernada sarkasme dari seorang detektif pria bertubuh gempal yang secara gambling sering mengatakan dia tidak menyukai orang – orang dari kejaksaan karena selalu menganggu tugas polisi.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn