Cerpen – Ada Apa Dengan Ansel by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Cerpen - Ada Apa Dengan Ansel by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Ansel mengangguk lalu meminum kopi. Hana berusaha mengumpulkan puzzle mengenai Ansel yang ingin dia dapatkan kepingan langsung dari Ansel bukan dari orang lain apalagi membicarakan di belakang “Apa Anda senang dengan pilihan Anda saat ini?” Ansel menatap Hana “Maksudnya?” Hana heran dengan pertanyaan Ansel “Iya senang karena melalui pekerjaan ini Anda berhasil meraih pencapaian dalam hidup salah satunya menjadi jaksa terbaik selama dua tahun di distrik Mapo.”

“Aku tidak memahaminya.” jawaban Ansel membuat kerutan di kening Hana “Apa maksudnya Anda tidak memahaminya?” Ansel tidak menjawab, dia hanya meminum kopi kembali. Hana perlu mengetahui sesuatu “Pak Ansel, kenapa Anda tidak pernah membalas semua orang yang ketahuan sedang membicarakan Anda?” Ansel menegakkan tubuh untuk bersandar pada kursi “Untuk apa aku membalas?”

Hana meneguk saliva lalu bicara lagi “Mereka mengatakan Anda kaku, pendendam bahkan psikopat. Apa Anda tidak marah?” Ansel menggelengkan kepala “Setiap orang mempunyai kebebasan dalam menilai orang lain.” bertepatan dengan ucapannya, seorang pramuniaga yang kehilangan keseimbangan tanpa sengaja menjatuhkan secangkir kopi panas di atas tangan Ansel yang berada di atas meja.

“ASTAGA!” seru pramuniaga itu seraya melihat tangan Ansel mulai berubah merah di atas warna hitam pekat kopi. Hana langsung mengambil kumpulan tisu dari dalam tas dan membersihkan cairan kopi dari tangan Ansel, dia melihat ngeri tangan Ansel yang terus memerah namun pria itu tidak menampilkan ekspresi sakit bahkan meringis kesakitan pun tidak.

“Saya benar – benar mohon maaf.” pramuniaga itu menundukkan kepala sangat menyesal “Saya akan mengganti biaya pengobatan Anda.” Ansel menggelengkan kepala pelan “Tidak perlu. Saya tidak apa- apa.” baik Hana dan pramuniaga dibuat terkejut dengan ucapan dan ekspresi datar Ansel yang membuat tangan Hana sedikit bergetar seraya membersihkan tangan Ansel. Kepala Hana mendongak untuk menatap Ansel yang ternyata juga sedang membalas tatapan Hana melalui manik mata hitamnya.

Setelah melepaskan jubah hitam bergaris merah keunguan di bagian depan, Hana menghela napas panjang. Sidang hari ini menghabiskan waktu hampir delapan jam karena begitu banyak orang memberikan kesaksian untuk memberatkan tersangka. Awalnya dalam kasus pelecehan kali ini, tidak ada yang mau bersaksi karena tersangka adalah seorang anggota dewan pemerintahan. Namun berkat kegigihan Hana dan Ansel, mulai banyak korban dan saksi yang berani menyatakan kebenaran.

Senyuman tipis muncul di wajah Hana ketika mengingat seminggu yang lalu ketika dia dan Ansel menemui salah satu korban pelecahan. Korban berumur sekitar 20an itu menceritakan pelecehan yang dialami namun setelahnya dia memeluk erat Ansel.
“Pak Jaksa.” perempuan berumur sekitar 20an itu berseru dengan airmata mengalir deras, tangan kecil memeluk tubuh kokoh Ansel yang bergeming.

Hana terkejut dengan tindakan perempuan itu apalagi ketika melihat Ansel tidak menampakkan ekspresi apapun bahkan tangan dan tubuhnya terlihat kaku.

Ansel melihat ke arah Hana dengan raut wajah seperti bertanya apa yang harus dirinya lakukan. Hana mengangkat tangannya lalu membuat gerakan menepuk – nepuk perlahan. Pria itu mulai mengangkat tangan lalu menepuk – nepuk pundak perempuan yang memeluk tubuhnya itu. Ansel terus menepuk pundak perempuan itu sampai membuat Hana tersenyum lebar. Atensi Ansel teralihkan ketika melihat senyuman cerah Hana yang tidak dipahami oleh pikiran.

Hana memasang wajah bingung ketika Ansel terus memandanginya namun tangan Ansel tidak berhenti menepuk pundak korban.

Ketika mengingat kembali rincian kejadian itu, Hana mulai bertanya kenapa akhir – akhir ini pandangan mata Ansel sering jatuh untuk memperhatikannya. Walaupun pandangan mata Ansel datar tanpa ekspresi namun Hana merasa Ansel seperti sedang bertanya pada dirinya.

“Ada apa Hana?” suara berat Ansel menyadarkan Hana yang langsung menghampiri Ansel yang sudah ada di pintu masuk ruangan sidang “Tidak ada apa – apa, Pak. Mari kita kembali ke kantor.” Ansel mengangguk lalu mereka keluar ruangan menuju parkiran mobil.

Namun langkah mereka terhenti ketika ada seorang jaksa pria memanggil Ansel “Hai Ansel. Tidak sangka akan bertemu lagi.” Ansel hanya menganggukkan kepala membuat Jennof, nama jaksa pria itu yang terlihat dari ID Card yang menggantung di leher, menyunggingkan senyum sinis “Masih saja seperti itu. Kamu tidak tahu sopan santun atau memang bodoh. Apa ini cara menghargai seniormu?”

Hana membulatkan mata setelah mendengar ucapan Jennof sedangkan Ansel menatap sambil berkata “Apa kabar?” yang diberi pertanyaan berdecak kesal “Aku masih tidak bisa memahamimu. Kamu berpura – pura bodoh dan kaku hanya untuk menikungku kan? Berpura – pura tidak paham lalu belajar dariku tapi berakhir menjadi jaksa terbaik selama dua tahun.

Kamu masih berpikir lebih pintar dariku?” celoteh panjang lebar Jennof hanya diberi balas tatapan oleh Ansel.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn