
(Mysophobia adalah ketakutan patologis terhadap kuman maupun bakteri yang juga sering disebut dengan phobia kotor)
“Mysophobia.” Hana mencari tahu tentang phobia tersebut di laman internet handphone lalu berkata “Menolak kontak fisik dengan orang lain. Berarti pelakunya adalah orang yang memilih untuk sendirian daripada berada dalam keramaian.” Ansel mengangguk lalu bicara “Ketika dia terjebak dalam situasi ramai, dia akan mengalami gejolak fisik seperti panik, berkeringat atau sesak napas. Kita bisa memperkecil lingkup pencarian pelaku melalui kondisi phobia yang dia alami ini.” Hana setuju lalu menuliskan ucapan Ansel pada post it yang kemudian dia tempel pada berkas investigasi.
“Baru kali ini, aku terlibat diskusi panjang dengan Anda.” ada nada senang dalam ucapan Hana namun Ansel hanya mengangguk dan berkata “Kita harus mencari orang di sekitar korban yang mempunyai kondisi seperti ini tapi tidak menutup kemungkinan orang dengan phobia ini lebih menutup diri di rumah. Kita bisa mulai menelusuri dari rekan dan keluarga korban.” Hana kembali mengangguk namun dia agak sedikit kecewa karena Ansel tidak merespon ungkapan bahagianya.
Dua pasang kaki melangkah ringan di pinggir jalan Gangnam yang penuh gemerlap lampu dari toko – toko mewah yang ada di samping kanan dan kiri jalan. Setelah melakukan penyelidikan ke toko tempat korban pembunuhan bekerja, selama seharian penuh, Hana mulai merasa lelah dan lapar karena hanya mengisi perut dengan roti dan susu pisang. Sedangkan Ansel masih berjalan dengan bertenaga tanpa menunjukkan kelelahan sedikitpun.
“Anda tidak lelah?” tanya Hana sambil melirik Ansel “Tidak.” jawaban Ansel yang singkat membuat Hana menghela napas pendek namun dia berujar lagi “Bagaimana kalau kita makan dulu? Hari sudah hampir malam sepertinya ini waktu yang tepat untuk makan malam.” Ansel mengangguk.
Artikel yang sesuai:
Ekspresi Hana langsung berubah senang karena dia tahu harus makan di mana malam ini “Di seberang sana ada belokan ke jalanan kecil. Di samping kanan dari jalan itu ada kedai sup tulang sapi yang rasa sup enak sekali. Bagaimana kalau kita makan di sana?” Hana menjelaskan dengan menggebu – gebu yang hanya dibalas Ansel dengan anggukan.
Hana merasa malu harus menunjukkan semangat ketika menceritakan soal makanan tapi dia tidak peduli, saat ini perutnya sudah meronta minta diisi dengan segera. Karena itu dia segera melangkah pada zebra cross yang bertepatan lampu berganti warna ke merah. Ketika langkah kaki Hana bergerak menapaki zebra cross, tiba – tiba lengannya ditarik cepat oleh seseorang yang membuat tubuh kurus Hana dinaungi oleh tubuh kokoh Ansel.
Bersamaan dengan kejadian mengejutkan itu, sebuah mobil sport berwarna merah menyala melaju dengan kecepatan di luar batas normal tanpa memperdulikan lampu merah. Semua orang di sekitar Hana dan Ansel mulai mengutuk pengendara mobil dengan teriakan mereka namun tidak dengan Hana yang jantungnya berdegup kencang. Tangan besar Ansel memegang erat tubuh Hana yang membuat kepala wanita itu mendongak dan mengamati pria yang masih menatap mobil merah. Lekuk wajah Ansel nampak menarik dengan perpaduan alis mata hitam tebal dan manik mata hitam bak langit malam.
“Ada apa?” suara berat Ansel menyadarkan Hana “Tidak apa – apa.” Hana melepaskan diri dari tangan Ansel “Terima kasih sudah menolong.” Ansel mengangguk lalu mereka berjalan beriringan menyeberangi jalan. Hana meneguk saliva sambil memegang bagian belakang leher ketika mengingat kembali kejadian tadi. Dia tidak dapat menipu diri sendiri kalau pria di sampingnya ini mempunyai wajah tampan. Namun hal yang membuat Hana bingung adalah pria ini tidak menunjukkan ekspresi apapun ketika orang di sekitarnya marah dan mengumpat pengendara mobil tadi. Tatapan dari manik mata hitam milik Ansel nampak normal dan tidak ditangkap ekspresi apapun. Ada apa dengan Ansel?
Jam dinding menunjukkan pukul 11.00 malam ketika suara jangkrik terdengar dari luar jendela lantai lima. Bintang serta bulan beradu untuk memantulkan sinar terang ke dalam ruangan gelap yang hanya diterangi oleh lampu meja. Hana masih mengetik laporan akhir untuk sidang besok pagi yang akan diikuti oleh Ansel serta dirinya. Peter sudah pamit untuk pulang sejak tiga jam yang lalu karena harus mengurus anak yang sakit sedangkan Ansel masih berada di meja kerja.






