Cerpen – Ada Apa Dengan Ansel by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Cerpen - Ada Apa Dengan Ansel by Rachel Grifith Charisa Wijaya

“Anda sudah keterlaluan.” Hana mengeluarkan nada marah miliknya “Kenapa Anda tidak terima karena junior Anda menjadi jaksa terbaik? Anda seharusnya bangga karena berkat bantuan Anda dia bisa menjadi jaksa terbaik.” Jennof terkejut dengan balasan sengit Hana, dia menatap kesal wanita itu “Siapa kamu? Tahu apa kamu soal Ansel?” langkah Hana lebih maju untuk balas menatap Jennof “Pak Ansel adalah orang yang cerdas dan bermartabat.” Jennof tertawa sinis “Bermartabat? Dia ini mirip dengan psikopat.

Tidak punya ekspresi atau ketertarikan pada apapun.” Hana meneguk saliva karena kalimat terakhir dari Jeno adalah benar adanya namun dia tidak ingin menyerah “Hanya karena Pak Ansel tidak berekspresi apapun bukan berarti dia dapat disamakan dengan psikopat.”

“Hana.” Ansel memegang pundak Hana yang bergetar karena amarah “Kita harus kembali ke kantor.” Hana menoleh pada Ansel yang nampak tenang lalu tangan besar Ansel meraih tangan kurus Hana untuk masuk dalam rengkuhannya. Dia menatap Jennof “Terima kasih karena sudah membuatku sampai sejauh ini.” lalu mereka berjalan menjauh dari Jennof yang menatap kesal mereka.

Amarah Hana yang masih meluap membuat dia ingin menangis karena amarah kali ini bukan atas perlakuan jahat terhadap dirinya sendiri tapi kepada seseorang yang bahkan tidak membalas tindakan dan perkataan orang lain padanya. Hana menatap tangan Ansel yang terus memegangnya “Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Pak Ansel?”

“Sudah berapa lama kita bekerja sama?” pertanyaan itu diajukan Ansel pada Hana dan Peter ketika mereka menyantap makan siang bersama di kantin.

“Hampir lima bulan, Pak.” jawab Peter lalu berkata “Ada apa Pak? Tidak seperti biasanya Anda mengajukan pertanyaan terlebih dahulu.” lalu yang terjadi setelahnya membuat Hana dan Peter terkejut bukan main, ketika bibir tipis Ansel ditarik membentuk sebuah senyuman.

Seperti oase di gurun pasir, Hana merasakan aliran menyejukkan melihat Ansel tersenyum “Anda bisa tersenyum, Pak?” pertanyaan Hana membuat Peter memukul pelan kepala Hana “AW.” Hana protes lalu menatap kesal Peter yang berkata “Kenapa kamu bertanya hal seperti itu sih, Hana?” wanita itu mendengus kesal “Wajar kalau aku bertanya seperti itu karena hampir lima bulan bersama, kita belum pernah lihat Pak Ansel tersenyum kan?” Peter berdecak kesal “Tapi tidak sopan ucapanmu itu.”

Sebuah senyuman kembali ditujukkan oleh Ansel ketika melihat pertengkaran kecil Hana dan Peter. Hana melihat senyuman itu “Anda tersenyum lagi, Pak.” nada suara Hana ceria diikuti dengan tawa Peter yang renyah. Pikiran Ansel mengolah ekspresi Hana dan Peter secara bersamaan yang menemukan jawaban bahwa mereka sedang senang, suatu kondisi dimana perasaan mereka sedang puas dan lega. Hal itu adalah satu dari sekian pelajaran yang Ansel terima.

Menit berikutnya Ansel merasakan bahwa pandangan matanya kabur serta kepalanya seperti dihantam benda tumpul yang membuat mata Ansel menunjukkan ekspresi meringis kesakitan. Hana melihat perubahan air muka Ansel “Anda kenapa, Pak?” Ansel berusaha mengucapkan sesuatu namun kepalanya makin berat. Hana semakin khawatir dan berubah menjadi seruan keras ketika mendapati tubuh Ansel terjatuh di lantai kantin dengan keras “PAK ANSEL!”

Manik mata cokelat gelap Hana meneliti tampilan layar yang menampilkan bagian dalam otak manusia. Pria paruh baya yang seumuran dengan Peter memakai jubah putih menunjuk dengan pointer pada sebuah titik dalam gambaran besar otak manusia “Bagian otak ini disebut anterior insula atau sering disebut dengan amigdala.

Bagian ini mengambil bagian penting dalam emosi manusia karena berhubungan dengan sistem limbik yang mempunyai fungsi untuk mengatur perilaku dan emosi manusia. Beberapa orang sering menyebut bagian ini dengan almond karena bentuknya mirip kacang almond.”

Hana dan Peter yang duduk di hadapan sang dokter mengangguk paham lalu dokter yang bernama Ardien melanjutkan bicara “Dalam kasus Ansel, bentuk amigdala miliknya tidak seperti orang normal.

Kacang almond milik Ansel bisa dikatakan rusak karena operasi besar di bagian kepala yang pernah dia jalani. Ansel mempunyai gangguan alexythimia sejak dua puluh lima tahun lalu.” Hana mengerutkan kening lalu segera bertanya “Apa itu alexythimia?” Ardien langsung menjawab “Gangguan alexythimia digambarkan sebagai konstruksi yang berkaitan dengan kesulitan mengalami, mengidentifikasi, dan mengekspresikan emosi.

Secara singkat, Ansel tidak dapat memahami atau membuat berbagai macam emosi dan rasa karena gangguan yang dia alami ini. Emosi dan perasaan yang muncul dari otak lalu diungkapkan dalam ucapan dan tindakan, Ansel tidak dapat memahami.”

Kepingan puzzle yang selama ini dicari – cari oleh Hana, menjadi lengkap setelah mendengar pernyataan dari Ardien. Pertanyaan yang selalu Hana ajukan pada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi dengan Ansel akhirnya menemukan jawabannya. Ansel tidak dapat memahami apapun yang orang lain ekspresikan baik itu pembicaraan, tindakan atau pemikiran. Setelahnya dia juga tidak mampu mengekspresikan semua yang muncul di dalam kepala. Entah kenapa hati Hana terasa pedih dan sesak.

Langit sore di kota Seoul selalu indah apalagi jika dinikmati dari pinggir Sungai Han karena pantulan warna jingga dari sinar matahari terpantul sempurna di aliran air Sungai Han. Hana mendorong kursi roda dimana seorang pria duduk seraya menikmati sore hari.
“Kenapa Anda mau ke sini?” tanya Hana yang langsung dijawab Ansel “Saat tertidur kemarin, aku teringat kalau semasa kecil aku sering diajak orangtuaku untuk melihat sunset dari pinggir sini.” Hana tersenyum tipis lalu mengingat rangkaian peristiwa yang terjadi kemarin.

Setelah menerima penjelasan dari Ardien, Hana dan Peter mengunjungi kamar perawatan Ansel dimana pria itu tertidur setelah diberikan obat tidur. Setelah menunggu sampai malam, Ansel masih belum bangun. Peter mengundurkan diri untuk kembali ke rumah sedangkan Hana masih menanti dengan duduk di samping ranjang Ansel. Sambil terus menatap wajah tenang Ansel, Hana kembali mengulang – ulang perkataan Ardien yang menyisakan kepedihan.

“Anda menghadapi semuanya sendirian, ketika orangtua Anda meninggal sedangkan Anda terbaring koma setelah menjalani operasi besar. Anda masih sendirian ketika terbangun dari tidur panjang dan mendapati diri Anda mengalami kondisi seperti sulit seperti ini. Ketika semua orang menghina dan menjatuhkan, Anda tidak dapat memahami mereka.

Anda hanya diam.” perlahan airmata mengalir di pipi Hana “Aku tidak membayangkan kesulitan yang Anda alami ini. Rasanya terlalu menyakitkan.”

Perlahan Ansel membuka mata lalu menoleh ke samping dan mendapati wajah Hana penuh dengan airmata. Ansel berusaha untuk duduk ketika Hana sadar dirinya sudah bangun “Pak Ansel, Anda sudah sadar.” wanita itu membantunya untuk duduk.

Ketika tubuhnya sudah duduk dengan sempurna, Ansel menatap Hana “Kamu mengeluarkan airmata.” Hana mengangguk lalu segera memberikan konfirmasi “Aku mengeluarkan airmata karena menangis dan aku menangis karena aku sedih.” Ansel bertanya “Kenapa kamu sedih?” Hana membalas tatapan Ansel “Aku sudah mendengar semua yang Anda alami dari Dokter Ardien. Karena itu aku sedih karena Anda mengalami semua ini dan tidak ada yang menemani Anda.”

Perlahan jari Ansel menghapus airmata di pipi Hana “Salah satu pelajaran yang pernah aku dapatkan dari sebuah buku adalah ketika seseorang menangis, kamu bisa menghapus air matanya supaya dia tidak merasa sendirian.” tangisan Hana semakin menjadi, membuat Ansel mengingat pelajaran lain. Tangan Ansel melingkari pundak Hana untuk membawa tubuh kurus Hana masuk dalam pelukannya. Hana memegang pakaian rumah sakit yang dikenakan Ansel dengan erat sambil menangis.

Tangan Ansel menepuk pundak Hana lembut namun menenangkan, dia terus melakukan hal itu sambil berbisik di telinga Hana “Apa kamu mau menemaniku?” pertanyaan yang diajukan Ansel belum mendapatkan jawaban dari Hana malam itu.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn