
Hana mendengus kesal “Anda selalu berpikir kami datang untuk menganggu pekerjaan Anda? Padahal kami berusaha membantu pekerjaan kalian.” tunjuk Hana pada whiteboard yang menampilkan alur kasus pembunuhan “Kasus ini sudah berlangsung selama satu bulan tapi tidak ada petunjuk satu pun siapa pelakunya. Bagaimana kami dari kejaksaan bisa tinggal diam?”
Pria bertubuh gempal yang bernama Jerry itu menatap kesal Hana “Kalau kalian berpikir mencari pelaku pembunuhan adalah hal yang mudah, kalian saja yang lakukan.” Hana tidak pantang mundur “Baik. Akan aku lakukan maka dari itu serahkan semua berkas investigasi yang kalian punya untuk kami selidiki.”
Ansel yang berdiri di samping Hana terdiam sambil memandangi perdebatan yang selalu terjadi ketika mereka datang ke kantor polisi distrik Gangnam, Seoul. Jerry melirik Ansel yang hanya diam “Anda atasan Hana kan? Bisa Anda beritahu bawahan Anda untuk lebih sopan bicara pada orang yang lebih tua?” Ansel mengangguk namun berkata “Bisa serahkan berkas investigasi sekarang?” Hana menatap Ansel dengan tenang seperti tidak habis menyaksikan perdebatan.
Jerry berdecak kesal lalu dengan kepala menyuruh detektif yang lebih junior menyerahkan berkas. Detektif muda itu tersenyum tipis pada Hana ketika menyerahkan berkas dengan judul “Kasus Pembunuhan Wanita di Indekos Gangnam”. Jerry langsung mengajak detektif muda itu keluar ruangan dan pintu ruangan tertutup dengan kasar ketika mereka meninggalkan ruangan.
Hana menghela napas panjang “Dasar pria gendut menyebalkan. Dia selalu saja menyulitkan pekerjaan kita. Padahal selama ini kita yang selalu membantu pekerjaannya.” celoteh Hana yang tidak mendapatkan respon apapun dari Ansel yang sudah sibuk memeriksa berkas. Hana kembali menghelas napas melihat atasannya itu hanya diam, dia langsung duduk di sampingnya dan ikut memeriksa berkas.
Artikel yang sesuai:
Tidak ada konversasi di antara dua manusia yang sedang melibatkan diri dalam keseruan memeriksa berkas. Hanya ada suara kertas yang dibalik dan goretan pulpen di atas kertas. Awalnya Hana tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini karena dia selalu terlibat diskusi dengan Johan, atasannya dahulu, ketika memeriksa berkas. Namun sejak bersama Ansel, Hana mengendalikan diri untuk tidak berdiskusi karena Ansel selalu diam kecuali Hana mengajukan pertanyaan yang biasanya dijawab singkat.
“Ada yang aneh.” Hana mengigit bibir bawah “Kenapa tidak ada jejak darah sama sekali di TKP?” Hana tidak berharap mendapatkan jawaban karena itu dia berusaha mencari tahu jawaban dari pertanyaannya, namun sebuah balasan muncul “Pelakunya adalah seseorang dengan mysophobia.”
Manik mata Hana membulat ketika mendengar Ansel memberikan respon “Dia masih mempunyai waktu untuk membersihkan darah padahal dia sudah melakukan pembunuhan. Bukankah hal itu terlalu berisiko?” Ansel kembali menjawab “Seseorang dengan mysophobia tidak akan melewatkan hal kotor yang terjadi di sekitarnya. Dia sudah memperkirakan waktu untuk membunuh dan membersihkan darah.”






