Cerpen – Siapa Yang Merancang Kota Ini? by Eko Saputra

Cerpen - Siapa Yang Merancang Kota Ini?

Siapa yang Merancang Kota Ini? “Tak ada lagi yang bisa kau lakukan, hai anak muda.”

“Tu.. tunggu dulu. Kau siapa? Dan apa maksud perkataanmu tadi?”

“Nanti kau akan mengerti. Sekarang bacalah doa sebelum tidurmu. Sebentar lagi kota ini akan kuhancurkan beserta seluruh isinya termasuk kau dan kehidupanmu.”

“Hai..Tunggu. Sia…” Belum sempat aku selesai bertanya untuk kedua puluh satu kalinya, lelaki itu telah menghilang dalam kegelapan. Aku mencari-cari apa saja yang bisa kujadikan cahaya, tetapi nihil.

Hanya sunyi dan kelam, aku terdiam, sesaat kemudian terdengar suara keras memekakkan, aku terperanjat. Tapi tidak ada apa pun dan siapa pun yang dapat kutemui, hanya hitam yang kian pekat. Suara tinggi itu perlahan merendah. Terus merendah hingga terdengar sayup-sayup, lalu hilang.

Sepi, lalu hening. Hening yang panjang, sampai aku mulai bisa merasakan sesuatu, dingin. Mulai bisa mendengar, melihat sesuatu, sedikit cahaya. Mulai mencium sesuatu, aroma kamar tidurku. Setelah itu aku sadar sepenuhnya dari sebuah mimpi buruk yang paling buruk.

“Uh” aku menyeka keringat dingin di kepala dan leherku, dan terkejut ketika kulihat sudah pukul enam lewat tiga puluh pagi.

Rasanya aku baru tidur dua menit lalu. Ah, mimpi buruk yang sangat buruk. Aku lantas bangkit dari tempat tidur, menarik handuk di gantungan, bergegas ke kamar mandi.

“Hai, lama sekali kamu bangun hari ini. Aku sudah lama menunggu,”  sikat gigiku protes sebab terlambat digunakan. Aku diam saja, mendengar dia berceloteh di sela-sela gigi.

Cerpen – Siapa Yang Merancang Kota Ini? by Eko Saputra

“Eh, tunggu dulu, masih ada sabun dibadanmu, siram dulu apa salahnya,” handukku juga tidakk ketinggalan mengomel. Aku tak peduli, bel sekolah sebentar lagi berbunyi. Aku harus segera berangkat.

“Kata ibumu, kau tidak boleh meninggalkan sarapan. Ayo, makan dulu aku, agar harimu hari ini lebih sehat.”

“Hai.. Mau ke mana? Tidak makan dulu?” Itu kata sekeping roti kering di dalam stoples di samping segelas susu yang di sampingnya ada sepiring nasi yang berdampingan dengan segelas air putih yang belum diminum.

“Nanti aku sarapan di sekolah,” jawabku singkat.

Sebelum nasi, air dan seisi rumah ini menahanku berangkat, aku cepat-cepat melangkah menuju pintu depan dan membukanya. Namun bukan tanah yang kuinjak di halaman rumah, melainkan udara. Oh, hampir saja aku jatuh ke bawah. Tapi aku sungguh terkejut.

“Sejak kapan rumahku berubah jadi apartemen tingkat tinggi ini. Untung kaki kiriku tidak sempat mengikuti kaki kanan. Seandainya aku keluar dengan kedua kaki, pasti saat ini aku bersimbah darah di halaman di bawah sana entah berapa ratus meter jaraknya.”  Tidak ingin meneruskan imajinasi mengerikan itu, aku langsung banting pintu dan teriak ke seisi rumah.

“Hai, jelaskan padaku! Siapa yang mengubah rumah kita menjadi apartemen jelek ini? Siapa?” seketika aku berteriak

Tik, tok, tik, tok. Hanya jam dinding yang menjawab tanyaku. Dia tunjukkan sudah hampir jam tujuh, lima belas menit lagi.

“Aku bisa terlambat. Oh, tidak, tidak, tidak!  Sekali lagi terlambat, aku akan dikeluarkan dari sekolah. Tidak boleh, tidak boleh, pokoknya tidak boleh!”  Mulai panik.

Aku terduduk dan hampir menangis ketika kulihat foto ayah dan ibu yang menggantung di dinding, mata mereka melirik ke arah kanan. Kulihat ke kanan, ada tangga.

“Ah, leganya. Terima kasih ayah, ibu.”  Tanpa pikir panjang lagi, aku bergegas menuruni tangga.

Aku turun secepat mungkin. “Siapa pula yang membuat gedung setinggi ini, butuh berapa lama hingga ke lantai dasar?” pikiranku mulai berkata.

“Jika nanti terlambat hanya karena kelamaan di tangga, akan kucari orang yang mengubah rumah ini, Kita lihat saja nanti!” gumamku.

Kemarin sore tiba-tiba pohon jambu di sebelah rumahku pindah ke belakang rumah tetangga. Kemarinnya lagi di halaman rumah tumbuh bunga-bunga yang tidak kusukai. Kemarinnya lagi jendela kamarku tiba-tiba hilang, baru kembali malamnya, itu pun dengan warna dan posisi yang berbeda.

Lalu sekarang aku dikejutkan dengan adanya tempat setinggi ini. Jika diperhatikan, kota ini memang selalu berubah sesuka hatinya.

Sekarang di depan rumahku ada pohon-pohon yang rimbun, esok pagi mungkin akan berubah jadi kebun binatang, esok paginya lagi bisa menjelma Taman Kanak-kanak, besoknya lagi akan kembali jadi pohon-pohon rimbun, hanya saja daunnya berwarna merah.

Semua penduduk kota tahu itu, dan memaklumi. Tapi tidak ada yang tahu pasti apa penyebab segala hal yang telah terjadi sejak ribuan tahun ini. Para ilmuwan sepakat menyebutnya sebagai fenomena alam yang biasa.

Penduduk kota percaya pada mereka, tetapi aku tidak. Kelak, akan kucari siapa dalang di balik semua kehidupan warga kota tercintaku ini. Akan kuseret ke meja pengadilan atas segala dosanya yang mengakibatkan segala hal buruk terjadi.

***

Kulirik jam yang melingkar di tangan kiri, pukul 06.50 WIB Aku masih di lantai 653.

“Ah, tinggi sekali, sialan.”  Aku berhenti sejenak, bingung. Tidak mungkin dalam waktu sesingkat ini bisa sampai ke sekolah tepat waktu.

Belum lagi kalau tiba-tiba sekolah juga pindah tempat. Tak ambil tempo, kulihat ke bawah. Meskipun tinggi, aku memaksakan diri untuk melompat dari satu lengan tangga ke lengan tangga lainnya. Begitu terus sampai aku merasa lelah, berhenti lagi.

Pukul 06.55 WIB, aku di lantai 536.

“Dalam lima menit sampai lantai dasar? Tidak mungkin, Aku menyerah!” Pasti terlambat.

Dalam keputusasaan itu, tiba-tiba secercah harapan menyapa saat aku menoleh ke kiri dan kutemui sebuah lift. “Oh, bodohnya kenapa tidak dari tadi menggunakan lift, kurang ajar ayah ibuku, mereka malah menunjukkan tangga,” Celoteh ku sambil memasuki lift.

Kencang sekali turunnya, pintu lift terbuka aku sampai di lantai paling bawah. Akhirnya bisa menghela napas sejenak, sebelum dikejutkan lagi dengan jam tanganku yang menunjukkan pukul 06.59 WIB.

Namun, aku lebih terkejut lagi ketika sadar salah mengenakan sepatu. Seharusnya aku pakai sepatu hadiah ulang tahun tiga bulan lalu yang dibelikan ayah. Itu bukan sepatu biasa, dibeli di tempat paling jauh yang pernah dijangkau umat manusia.

Harganya lebih mahal dari seisi kota ini. Tetapi bukan itu yang kubanggakan, melainkan kekuatan super yang dimilikinya. Dengan satu kata perintah saja, sepatu itu langsung bekerja dengan sangat baik.

Misalnya aku bilang “cepat” maka aku akan di bawa berlari secepat mungkin, lebih cepat dari kecepatan kilat yang menyambar pohon mangga tetanggaku seminggu lalu, dan sebaliknya.

Jika aku menjelaskan kepada kalian semua kelebihan sepatuku itu, maka tidak akan cukup seribu satu tahun menuliskannya. Dan percuma juga aku memamerkan kehebatan sepatu itu, sebab pagi ini sudah pasti terlambat dan besok akan datang surat pemberitahuan bahwa aku dikeluarkan dari sekolah.

***

Akhirnya aku berjalan terseok-seok di jalan raya. Menikmati apa yang tampak di depan mata. Dan tak ada yang sama seperti yang kutemui kemarin. Nyaris seratus persen berubah. Kemarin di sepanjang pinggir jalan ini berderet pohon-pohon ketapang yang meneduhkan. Pagi ini tiba-tiba gedung tinggi menggantikannya.

Namun, di sekeliling gedung itu melayang-layang tulisan O2. Sebuah Sekolah Menengah tiba-tiba muncul di sebelah kiri jalan. Seingatku dua hari lalu masih Sekolah Dasar. Mungkin tadi malam ada orang iseng mengubah kata “Dasar” menjadi “Menengah” Atau mungkin itu ulah wali murid yang ingin anaknya cepat tamat dari masa sekolahan.

Berbicara tentang kerja di kota ini sebagian besar orang tidak punya pekerjaan tetap. Selalu berubah-ubah hampir setiap minggu, atau setiap tiga hari, atau setiap hari, bahkan setiap jam.

Semua makhluk secara tidak langsung telah sepakat untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada.Tidak ada satu orang pun yang berinisiatif untuk melakukan unjuk rasa kepada pemerintah.

Ada tiga alasan untuk itu Pertama, penduduk kota telah belajar dari sejarah bahwa aksi unjuk rasa lebih banyak memakan korban daripada menghasilkan solusi. Kedua, semua orang tahu bahwa Pemerintah Kota pun tidak tahu solusinya. Ketiga, Kantor Walikota sering berpindah-pindah tempat. Akan sangat sulit mengkoordinasikan para pengunjuk rasa. Bisa saja sewaktu demo tiba-tiba Kantor Walikota berubah jadi Taman Wisata.

Aku masih menikmati perjalanan ke sekolah, dalam hati aku berharap sekolah juga pindah tempat, jadi semua murid dan guru kebingungan mencarinya. Dan harapanku nyata, sekolah ada di depanku hanya dua puluh tiga meter jaraknya. Aku bergegas ke sana dan membayangkan semua murid dan guru masih kebingungan di setiap sudut kota ini.

Namun, harapan itu lekas sirna. Sebab, sesampainya di sekolah semua orang sudah datang. Pembelajaran berlangsung sebagaimana biasanya. Tiba di kelas, Ibu guru dan kawan-kawan menatapku. Ibu guru melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Aku terlambat satu jam dua puluh empat menit tiga puluh dua detik.

Musibah itu datang. Surat Pemberhentian Sekolah kuterima langsung hari itu juga. Besok aku tak perlu masuk kelas lagi.

***

Sementara itu, di suatu tempat yang jauh dari kotaku, di salah satu bulan yang ada di tahun 2019, seorang Perancang Kota duduk kebingungan menatap kertas bergambar pemandangan kota yang belum selesai dikerjakannya.

Dia diberi tugas oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Namun, ia tetap mengerjakan tugas itu karena bayarannya tinggi. Tidak sulit, hanya merancang sebuah kota untuk beribu tahun mendatang. Di meja ada kertas sepanjang satu setengah meter dan lebar satu meter.

Di atas kertas itulah ia mencoret- menghapus-menggambar ulang bagaimana bentuk kota yang diinginkan. Telah berminggu-minggu dikerjakan, belum selesai. Tenggatnya besok siang. Itulah mengapa ia kebingungan. Hanya sebuah lampu meja dan bercangkir-cangkir kopi yang menemaninya melalui siang dan malam.

Ia memperhatikan rancangannya, ada rumah-rumah penduduk tersebar di seluruh kota. Semakin bertambah tahun, manusia semakin banyak, berarti semakin banyak juga kebutuhan tempat tinggal. Jika aku buat tempat tinggalnya rumah-rumah seperti ini, bisa-bisa kota ini penuh dengan rumah saja, tak ada tempat untuk yang lain.

Akhirnya ia mengubah perumahan itu menjadi beberapa apartemen tingkat tinggi. Tinggi sekali.Setelah itu ia meneruskan gambarnya. Apa yang dilihatnya tidak bagus, dihapus, digambar lagi. Belum puas juga, dicoret nya lagi. Ia pindahkan gedung ini ke sini, bangunan itu ke situ. Pohon ini bagusnya bukan di sini, sekolah sebaiknya di sana saja.

Sesukanya saja merancang kota untuk umat mendatang. Sepanjang hari ini ia sudah melakukan banyak perubahan. Sebuah Sekolah Dasar digantinya jadi Sekolah Menengah. Pohon-pohon menurutnya tidak akan eksis lagi esok, digantinya jadi gedung-gedung bertingkat.

Namun, manusia tetap membutuhkan udara segar untuk bernapas. Gedung itu membutuhkan sebuah teknologi yang paling canggih untuk dapat menghasilkan oksigen. Dia tidak tahu caranya, tetapi tak mengapa. Tugasnya hanya merancang.

Bagaimana mengeksekusi itu tugas insinyur dan ilmuwan masa depan. Jadi diberinya simbol O2 di sekeliling gedung itu, dan diletakkan sepanjang pinggir jalan.

Posisi Kantor Walikota mestinya strategis.Kemarin ia letak di batas kota, agar Pemerintah yang paling pertama tahu jika ada penyusup masuk. Kemudian diubahnya lagi, pinggir kota terlalu jauh bagi penduduk yang tinggal di sisi lain. Di letaknya tepat di tengah, tetapi terlalu ramai. Sampai sekarang, Kantor Walikota masih mencari posisi yang ideal.

Bukan hanya gedung dan rumah dan sekolah yang membuatnya bingung, nama kota itu pun masih belum didapatnya. Seminggu lalu ia beri nama Kota Sejahtera. Rasanya tidak cocok, diganti jadi Kota Damai. Ah, tidak sesuai juga. Maka berubah-ubahlah nama kota itu. Selagi asyik merancang, tiba-tiba listrik padam. Duh, sialan. Besok siang deadline.

***

Terseok-seok aku berjalan pulang. Tidak tahu apa yang akan dikatakan ayah dan ibu nanti. Aku buka kalender di gawai, tanggal 11 September 9102 SM (Setelah Masehi), kutandai tanggal itu sebagai tanggal sial dalam hidupku, diberhentikan dari sekolah.

Wajah kota sudah berubah saja, sekolah Dasar yang berubah jadi Sekolah Menengah tadi sudah berubah lagi jadi Kantor Walikota. Hanya saja namanya sudah berubah lagi menjadi Kota Sentosa, seingatku tiga hari lalu masih Kota Makmur.

Di sampingnya sudah nongol Perpustakaan Kota, baru kali ini aku tahu kotaku punya tempat membaca. Bentuk atapnya unik sekali, seperti buku yang terbuka. Aku masuk ke sana, kalau ke rumah nanti kena marah orang tuaku lagi.

Sesampainya di depan pagar, tiba-tiba kotaku menjadi gelap, tidak tampak setitik pun cahaya. Sejurus kemudian terdengar seisi kota heboh. Untuk kali pertamanya dalam 1500 tahun, kota kami mengalami apa yang dinamakan orang terdahulu sebagai malam.

Gelap total, untuk kali pertamanya masyarakat tidak terima dengan perubahan. Untuk kali pertama pula unjuk rasa terjadi di Kota Sentosa ini. Ketika perlahan-lahan mataku berdamai dengan gelap, kulihat Kantor Wali Kota di sebelahku sudah ramai oleh teriakan demonstran.

“BERI TAHU KAMI APA YANG TERJADI!.”

“KAMI TIDAK BISA TERIMA INI!.”

“SELAMATKAN KOTA DARI KEGELAPAN.”

Dan segala macam tuntutan dari warga, aku ikut bergabung dengan mereka, tidak jadi ke perpustakaan. Sejurus kemudian Walikota muncul menghampiri warga.

“Mohon tenang. Mohon tenang,” dia mulai berpidato.

“Kita semua baru saja mengalami fenomena alam yang tidak biasa. Saya selaku Walikota mengaku belum mengetahui solusinya. Namun, kami berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya dan kembali menerangkan Kota Sentosa tercinta kita. Kami sudah memerintahkan kepada seluruh ilmuwan terhebat untuk mengkaji fenomena ini. Sekarang pulanglah ke rumah masing-masing. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Kita harus selalu siap menghadapi perubahan. Mengutuki perubahan tidak akan mengubah apapun. Sebaliknya, beradaptasilah!” Penduduk kota yang tidak kenal kata membantah itu pun menuruti perintah Walikota.

Tak lama kemudian halaman yang tadi penuh kembali seperti biasa, sepi. Warga mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan.

Sementara aku, diam-diam mencari tahu penyebab dari semua ini. Aku tetap tidak pulang, melainkan masuk ke perpustakaan dan membaca apa yang bisa kubaca.

Demi satu tujuan sebenarnya, aku akan menyeret ke meja pengadilan siapa pun dia yang sudah seenak hatinya mengacak-acak kota dan hidupku, yang mengubah rumahku jadi gedung tinggi sehingga aku terlambat tiba di sekolah yang membuatku dikeluarkan dan akan membawa malu bagi ayah dan ibuku.

Aku akan mencari tahu siapa dia. Bersiaplah. Ini kotaku, tak ada yang boleh mengganggu. Aku pun tenggelam dalam lautan kata-kata tanpa akhir. Semoga ada jawaban dalam buku ini. Di luar, langit masih gelap. Dan di dalam rumah masing-masing, penduduk melakukan aktivitas mereka yang baru.

***

Perancang Kota duduk termangu di teras rumahnya memandang lalu lalang kendaraan di jalan raya sambil menunggu listrik menyala. Mengapa tidak siang saja listriknya padam,mengapa harus malam. Ia menggerutu sendiri, terus menggerutu sampai tertidur.

***

Kota masih gelap, sudah berhari-hari aku di sini, di lantai paling atas perpustakaan yang megah. Jika lelah membaca, aku melangkah ke jendela dan memandang ke bawah. Sejak berhari-hari lalu, lebih tepatnya sejak langit menjadi gelap, kota ini tak mengalami perubahan untuk pertama kalinya.

Sekolahku masih di sana, dari ketinggian ini aku tidak tahu apakah pembelajaran masih berlangsung atau siswa diliburkan. Di sebelah sana tampak rumahku, lebih tepatnya apartemen tempatku tinggal. Persis seperti kutinggalkan beberapa hari lalu, tak berubah.

Setiap detail yang dapat kuingat dari pemandangan Kota Sentosa ini, tidak satu inci pun berubah sejak itu. Lalu, tiba-tiba satu kesimpulan muncul di kepalaku, kota ini hanya berubah jika ada cahaya. Sip, aku sudah maju satu langkah. Bagaimana dengan para ilmuwan itu?

***

“Hai, hai, kemarilah,” suara lirih itu membangunkanku.

Aku tidak tahu sudah berapa hari di sini. Yang jelas, aku tidak akan pulang sebelum menemukan cara yang tepat menjelaskan semua fenomena ini. Dan, tampaknya jawaban itu mulai muncul.

“Kemarilah, aku dapat membantumu,” sebuah buku di rak di ujung sana memanggilku.

Tanpa pikir panjang, aku berlari kecil ke arahnya. Lalu mengambilnya, lalu membaca. Kata demi kata, kalimat demi kalimat. Setitik cahaya mulai muncul, aku akan jadi ilmuwan dadakan sebentar lagi, sebelum ilmuwan asli itu dapat jawabannya.

Setelah berhari-hari, akhirnya aku menuntaskan buku hebat itu. Sekarang aku mengerti atas semua ini. Buku itu menjelaskan bahwa, kota ini dibentuk dan dirangkai oleh seseorang dari atas langit nun jauh sana.

Di luar jangkauan manusia. Dia membuat pemandangan kota sesukanya. Itulah mengapa wajah kota selalu berubah. Adapun mengapa kota ini tidak pernah malam karena matahari tidak pernah padam.

Jika matahari padam, maka kota menjadi gelap. Satu-satunya cara untuk menghidupkan lagi matahari itu adalah dengan terbang ke langit dan menemui orang itu, lalu memintanya menyalakan matahari.

Namun, buku itu tidak memberi tahu bagaimana caranya sampai ke tempat setinggi itu. Meski begitu, aku masih bisa sedikit tersenyum. Aku ingat sepatu ulang tahunku yang ajaib itu. Tanpa pikir panjang, aku turun ke lantai dasar.

Keluar dan akan berlari ke apartemen ketika sekonyong-konyong kulihat matahari itu telah menyala. Kota sudah terang, Gelap sudah hilang.

“Ah, sial.” Aku tidak jadi berkontribusi.

Dan ilmuwan yang kupikir akan kalah denganku ternyata sudah lebih dulu mengumumkan penemuan mereka, persis dengan apa yang kudapat dari buku itu. Lalu Walikota menjelaskan hal yang sama kepada warga lewat konferensi pers. Dan aku masih berlari, memaki sepatu itu terbang ke langit menemui orang itu.

***

Listrik menyala. Perancang kota masih lelap dalam mimpi indahnya. Dia bermimpi mendapat penghargaan atas keberhasilannya merancang kota yang luar biasa canggih. Namun, mimpi itu buyar ketika tiba-tiba ia bangkit dan sadar ketiduran di teras. Aih, hanya mimpi. Ia bergegas masuk, ke meja kerjanya. Masih belum selesai, beberapa jam lagi deadline. Kota ini masih banyak kekurangan, aku harus merombaknya lagi.

***

Aku yakin tidak salah jalan. Di sini, tepat di depan perkebunan kelapa sawit yang daunnya merah ini, seharusnya berdiri apartemenku, tetapi kosong. Aku mengutuk dia telah mengubahnya lagi.

Di mana? Sekarang di mana rumahku? Atau setidaknya tunjukkan saja di mana sepatuku? Tak ada yang menjawab. Buku yang kubaca hanya menjelaskan bangunan bisa berpindah tempat, tapi tidak menjelaskan ke mana pindahnya.

Aku bingung sekaligus marah. Akhirnya, aku jalan saja kemana kaki melangkah. Tidak habis pikir, beberapa waktu lalu dalam gelap dari atas perpustakaan, aku melihat kota ini statis. Tapi hari ini sesukanya bergerak sendiri.  Wajah kota berubah dalam sekejap ketika matahari bangun. Barangkali gelap lebih baik. Selagi mengutuk, sepatu ajaib itu dengan menakjubkannya sampai di kakiku, entah sejak kapan aku tidak tahu.

***

Dini hari diciptakan untuk istirahat, tetapi Perancang Kota itu menolak menuruti takdir diciptakannya malam. Sampai pukul empat ia masih merombak kota yang diyakininya sebagai kota impian sejuta umat.

Ditemani secangkir kopi hangat yang tidak pernah ingkar akan janjinya menahan kantuk, si Perancang Kota kian ligat memainkan tangannya di atas kertas yang telah melalui banyak coretan dan hapusan itu. Detik-detik jam yang berdetak seirama dengan gerak jarinya memainkan imajinasi yang tanpa batas.

Perancang kota terus menggambar tanpa menyadari seseorang dari dalam kertasnya sedang dalam perjalanan menuju pembalasan dendam.

***

Beberapa jam setelah itu aku telah menembus gumpalan awan, sejurus kemudian sampai di langit ke tujuh. Entah pada hari apa ketika tubuhku menembus sesuatu yang keras dan mengempaskanku sekuat-kuatnya ke suatu tempat yang asing, orang-orang pintarmenyebutnyadimensi lain.

Luar biasa, aku berhasil menembus langit, berkat sepatu ajaib.Yang kulihat kemudian adalah dataran luas berwarna cokelat, seperti gurun dalam cerita-cerita.

Tak ada satu makhluk pun, hanya aku dan udara yang terasa lebih panas. Di atasku tampak bola raksasa bercahaya. Yang baru kutahu, rupanya matahari pun butuh penyangga untuk dapat berdiri.

Setelah terpana akan matahari, kini aku digetarkan dengan sesosok raksasa yang berada sekitar dua ratus empat belas meter dariku. Dari kejauhan, tampak raksasa berbaju hitam itu sedang menggoreskan pensilnya di atas kertas putih, aku mendekat, benar itu kotaku.

Di sana sekolah, perpustakaan kemarin, di sebelahnya kantor pemerintahan, belakangnya dinas pendidikan. Di ujung sana kebun binatang, dan di sebelahnya rumahku.

Persis rumahku, bukan apartemen lagi. Raksasa ini mengubahnya seperti semula. Bukan main aku senangnya sebab dengan begitu aku tak butuh waktu lama untuk turun ke lantai dasar yang membuatku terlambat ke sekolah.

Terlambat sekolah? Seketika aku sadar dari kegiranganku dan ingat tujuan sebenarnya aku ke sini. Oleh sebab itu, raksasa hitam inilah yang harus bertanggung jawab.

“HAI! HAI! KAU, KEMARI! IKUT AKU! SEMUA ULAHMU AKAN KAU PERTANGGUNG JAWABKAN DI MEJA HIJAU. SEKARANG MENYERAHLAH. KAU AKAN DIJERAT HUKUMAN SERIBU LIMA RATUS TAHUN ENAM BULAN DUA PULUH EMPAT HARI TIGA JAM PENJARA ATAS DOSA MENGUBAH TAKDIR MAKHLUK HIDUP.”

Aku yakin itulah teriakan paling keras yang pernah kukeluarkan, tetapi orang ini tak menoleh sama sekali, seolah memang tak ada apa-apa. Dia justru semakin asyik mengutak-atik kota tercintaku. Diubahnya Kota Sentosa menjadi Kota Paling Sentosa. Dipindahkannya rumahku ke ujung kota, tepat di sebelah kandang buaya.

“DASAR SIALAN KAU. HEI, HEI!!!!!!” nihil. Tidak ada reaksi sama sekali dari penjahat tak merasa bersalah.

Aku lalu memikirkan bagaimana caranya agar raksasa ini mendengar suaraku.

***

Pukul lima pagi, dan kota ini belum sampai pada bentuk terbaiknya. Sementara si Perancang Kota mulai bosan. Dia kemudian berdiri, ingin rehat lagi sejenak. Namun tanpa sengaja lengannya menumpahkan cangkir kopi yang sisa setengah. Dia panik, kopi yang telah mendingin itu mengenai separuh kertas gambarnya.

” Basah, Ah, sial.. Mengapa di saat seperti ini justru semakin kacau, Arghhhh.”

Diangkatnya pelan-pelan kertas itu, malah semakin rusak. Kertas itu koyak, perancang Kota semakin panik.

” Tidak. Bagaimana ini? Deadline enam jam lagi.” suaranya.

“TIDAK!!!!!!!!!!!” Si Perancang Kota merasa itulah teriakannya yang paling keras, sehingga kotanya lenyap.

***

Sementara aku sedang memikirkan cara terbaik memanggil raksasa ini, tiba-tiba terdengar sebuah dentuman besar. Kulihat sekeliling, sebuah benda kaca besar baru saja jatuh dan memuntahkan air berwarna cokelat ke seluruh dataran tempatku berpijak. Kemudian airnya mengalir menuju kotaku.

” HEII!! SIAPA DI BAWAH? BERI PENGUMUMAN KE PENJURU. KOTA KITA DI TERJANG BANJIR. HATI-HATI. HEIII? ADAKAH YANG MENDENGAR? HEIIIIIII!.”

Tak ada yang mendengar, banjir menerjang kotaku tercinta. Saat itu aku lupa sudah dengan si orang jahat yang memainkan kota ini. Aku lantas turun secepatnya menuju bumi. Menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.

Ternyata turun lebih cepat, hanya dalam beberapa detik aku sudah menginjak bumi. Namun, Secepat-cepatnya aku menginjak bumi, lebih cepat lagi air tenggelamkan kota. Tersapu habis, kota dan seisinya lenyap tinggal kenangan.

Aku melihat warga-warga sudah mengambang dan menggembung. Sementara tubuhku pun mulai terasa lemah. Aku lunglai. Lalu terjatuh, terhanyut mengikuti deras arus air.

Sebelum mataku tertutup dan sebelum sempat aku berpikir tentang semua ini, tiba-tiba ingatanku terbang menuju mimpi buruk yang kualami beberapa waktu lalu.

Kota ini hancur beserta seluruh isinya, termasuk aku dan kehidupanku. Setelah itu, semuanya gelap, pekat. Tidak ada sesuatu pun dapat kusentuh, bahkan kulihat. Semua kosong, sekosong tempat yang paling kosong.

Hampa yang ada dan sepenuh warna hitam yang meyakinkanku bahwa aku telah ada dalam ketiadaan. Tanpa suara, tanpa apa-apa. Sempurna. Semua telah tiada. Setelah itu, aku tidak sadarkan diri lagi. Hilang, Hilang, Lalu hening.

***

Sampai kulitku merasakan sesuatu, dingin. Mataku melihat setitik cahaya, terang. Telingaku mendengar sayup-sayup, irama jam dinding yang berdetak. Setelahnya semua bermunculan dalam pandanganku lampu, jendela, atap, jam dinding, pintu, kasur.

Aroma yang kucium meyakinkanku ini kamar tidur, sejurus kemudian aku sadar sepenuhnya dari mimpi aneh yang paling aneh, Yang paling aneh dari yang paling aneh dari semua mimpi aneh yang pernah aku mimpikan.

Merasa haus, aku turun dan bergegas ke dapur dan minum segelas air.

Mimpi yang panjang, lalu aku teringat rancangan kotaku yang sudah selesai. Aku turun ke bawah untuk melihatnya. Mungkin aku terlalu fokus pada pekerjaan ini, sampai-sampai orang di dalam gambar yang kubuat ini bisa masuk ke alam mimpiku. Tapi untunglah setengah cangkir kopi itu tidak benar-benar tumpah seperti dalam mimpi tadi.

Kotaku sudah jadi, betapa menakjubkan. Sungguh indah pemandangannya, sungguh damai. Sempurna, Sempurna. Ventilasi jendela mengabarkan hari sudah pagi, saatnya menghirup udara segar.

Beranjak aku ke ruang depan. Membuka pintu dan siap menarik napas dalam-dalam ketika aku sadari aku berada di ketinggian entah berapa ratus meter. Oh, siapa yang telah mengubah rumahku jadi apartemen tingkat tinggi ini?

Ditulis oleh: @ekos.sptra

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *