
Semakin hari, aku semakin dekat dengan Pak Atta. Dia juga semakin terbuka denganku, dan dia selalu menarik perhatianku untuk terus memperdulikannya. Banyak cerita dia yang ditampung pada memori kepalaku, tentang keluarga yang bercerai-berai, tentang asmara yang berantakan, dan tentang penyakit depresi ringannya.
Ya, pradugaku benar waktu itu. Dia mengatakan, tidak ada satu orang pun yang mengetahui tentang penyakitnya, kecuali aku. Dia juga berani minum obat penenang di depanku.
Cerpen – Dosenku Pacarku by Eva Zulfa Fauziah
Aku seperti rumah yang mampu melindungi makhluk bumi dari badai, hujan, dan tempat tenang setelah dipecundangi semesta. Segala hal yang Pak Atta lakukan, selalu diceritakan kepadaku. Tidak terkecuali.
Seperti pepatah lama, cinta akan hadir ketika kita terbiasa bersama. Dan aku, mencintainya. Sebuah kekeliruan yang harus segera aku hapuskan.
Kekeliruan itu semakin menjalar luas saat Pak Atta juga nyaman denganku. Aku tak percaya dan menjauh darinya selama beberapa minggu. Ketika kelasnya pun, aku tidak hadir. Aku takut, semakin menatap mata sipitnya, semakin aku jatuh cinta kepadanya.
Artikel yang sesuai:
Cinta bukan kesalahan, tetapi kesalahan terletak pada siapa yang dicintai. Pak Atta dosen, aku mahasiswi, dan tak mungkin kami akan menyatu. Strata kami berbeda.
Namun, pagi itu aku dikejutkan dengan keberadaannya di rumahku. Ia membawa bunga yang sangat banyak. Lalu menyatakan perasaannya di depan kedua orang tuaku. Katanya, cinta bukan kesalahan, cinta berhak tinggal pada hati siapapun. Aku luluh, dan aku resmi menerima Pak Atta sebagai kekasihku.
Beberapa tahun hubungan kami sangat menarik, membuatku bahagia dan selalu bersyukur karena dia telah hadir di hidupku. Namun, seperti bunga yang sudah menampilkan keindahannya, ia akan layu lalu mati. Hubungan aku dan Pak Atta beranjak pada banyak kesalahan.






