
Sepertinya aku salah berbicara. Ia malah memohon untuk aku ajak kerumah. Berdalih ia akan melakukan hal yang sama, ketika ia harus pergi sendirian. Ia berjanji untuk tinggal hanya sampai pagi. Aku menolak. Tapi … ia berbicara perihal masa depanku. ia melihatku yang masih mengenakan name tag bercirikan PMB, dan ia mulai angkat bicara tentang siapa dirinya.
Dosen umum Bimbingan Konseling, yang tidak bisa membimbing dirinya sendiri. Ia mengajar di tingkat 1, yang pastinya aku juga akan diajari olehnya. Dia ikut denganku, dan menepati janjinya untuk pulang selepas matahari pagi bersinar.
Cerpen – Dosenku Pacarku by Eva Zulfa Fauziah
Hari-hari berlalu, aku sudah mulai berkuliah. Dan seperti pada saat itu Atta bilang, dia adalah dosen BK dan mengajar di tingkat 1. Aku duduk paling belakang, lekat mata melihat gerak gerik Atta. “Dia dosen muda yang merelakan hidupnya dengan cara konyol, tapi seorang mahasiswi menyelematkannya.” Sedari pembelajaran, isi kepalaku terus mengulang-ulang kalimat tersebut.
Perkuliahan berakhir, dan kisah kami dimulai. Atta terus mengulang perihal janjiku, janji untuk tidak membocorkan bahwa dia akan melakukan hal nekat seperti malam itu.
“Guru BK-kan bisa memahami semua pribadi anak didiknya, tapi kenapa Bapak tidak bisa memahami diri sendiri?” tanyaku ketika kami satu mobil. Dia memaksa mengantarku pulang.
Artikel yang sesuai:
“Mereka punya saya, sedang saya gak punya satupun pembimbing untuk diri saya. Dan kadang, ketika kita memutuskan satu hal, baik buruk itu pasti akan selalu disetujui oleh diri sendiri. sedangkan mereka, mereka akan mempertimbangkan keputusannya dengan solusi yang saya berikan.” Tatapannya sangat datar.
“Kenapa harus panjang lebar, bilang saja. Saya tidak punya orang untuk berbagi masalah,” ucapku.
Dia tidak menghiraukan perkataanku, sikapnya sangat jauh berbeda. Ketika sedang mengajar di kelas, ia humoris dan penuh gairah. Sedangkan, ketika bersamaku dia sangat dingin dan kaku, seperti orang yang mempunyai depresi berat.






