
Tidak lama setelah mendapatkan maaf dari Ina, Fauzan kembali ke tempat semula. Dia pun duduk di atas trotoar karena terlalu lelah setelah berlari. Matanya melacak keberadaan seseorang yang hilang dari pandangannya. Netra itu berhenti di sebuah titik yang tidak sengaja mempertemukannya dengan sebuah mata hitam yang indah.
Najla memalingkan wajah menghindari tatapan Fauzan. Dia pun duduk tidak jauh dari tempat keberadaan pria itu. Satu buah air mineral yang baru saja dibeli, dia serahkan kepada Fauzan. Laki-laki itu menyambut antusias pemberian Najla. Dia pun meneguknya dan hanya menyisakan sedikit air di dalam botol.
“Haus?” tanya Najla.
Fauzan hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Saya pikir kamu sudah pergi,” ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Artikel yang sesuai:
“Belum. Saya sudah janji akan menunggu di sini,” terangnya.
Fauzan semakin terpikat oleh Najla. Dia baru tahu bahwa masih ada perempuan yang memiliki rasa sabar begitu luas. Bahkan, ketika ditinggalkan begitu saja tanpa sebuah kepastian.
“Tunggu sebentar!” Fauzan menghampiri mobil sport hitam miliknya. Lalu, dia pun menyodorkan sebuah kertas kepada Najla.
Najla memperhatikan kertas itu dengan saksama. “Untuk apa?” tanyanya.
“Mengganti uangmu yang terpakai,” jawab Fauzan.
“Tidak usah. Sebaiknya kamu simpan saja cek ini.” Najla menyerahkan kembali benda itu kepada Fauzan.
“Kenapa?” tanya Fauzan heran.
“Daripada kamu mengembalikan uang saya, lebih baik kamu membantu saya,” tawar Najla.
Fauzan menatapnya bingung. “Membantu apa?”
Najla menatap kertas yang sudah kembali pada genggaman sang pemilik. “Berikan uang itu kepada orang yang lebih membutuhkan.”
“Lantas apa yang kamu terima sebagai balas jasa?” ujar Fauzan.
“Pahala dari Allah.”
Setelah kejadian itu, Fauzan semakin sering bertemu dengan Najla. Di bawah kampus yang sama, mereka pun saling mengenal satu sama lain. Tidak dapat dipungkiri, Najla juga sudah menaruh hati pada lelaki tampan yang belum lama dikenalnya.
Fauzan seringkali mengutarakan perasaannya kepada Najla. Namun, Najla selalu menolak tawarannya untuk berpacaran. Katanya dia tidak ingin terjerumus ke dalam perbuatan zina yang disebabkan oleh hubungan haram itu. Najla hanya meminta keseriusan Fauzan untuk membawanya ke pelaminan.
Fauzan yang teramat mencintai Najla mengiyakan permintaannya. Lelaki itu belum pernah menemui perempuan seperti Najla. Dari ratusan perempuan yang telah dikenalnya, hanya Najla yang tidak tergoda dengan kekayaan Fauzan yang berlimpah. Bahkan, hanya dia yang begitu berani mengajaknya menikah.
Fauzan memberanikan diri untuk mengutarakan keinginannya kepada sang ibu. Dia tahu, ibunya tidak akan semudah itu memberi jawaban “Iya.” Namun, Fauzan akan terus berusaha demi mendapatkan separuh hidupnya.
“Opo, nikah?” Mila terkejut dengan penuturan Fauzan.






