Cerpen – Cinta Terhalang Adat by Iis Sumiati

Cerpen - Cinta Terhalang Adat by Iis Sumiati

Dua minggu sebelum hari-H, Fauzan mengajak Najla untuk bertemu dengan ibunya. Mereka pun berhenti di depan sebuah butik besar langganan keluarga Mila. Di sana, sudah dipersiapkan pakaian adat khas Jawa Tengah yang akan dikenakan oleh pengantin.

“Nah, Sis, ini calon menantu saya,” ucap Mila kepada seorang pria yang berdandan layaknya perempuan.

“Cantik juga. Di-make over dikit pasti makin cantik. Bentar, ya, eike ambil bajunya dulu,” katanya seraya pergi.

“Najla, ingat ya, kamu jangan mempermalukan saya di sini!” ujar Mila.

“Iya, Tante,” balas Najla.

Laki-laki tadi datang kembali dengan membawa dua buah baju tanpa lengan.

“Nah, Jeng, ini pilihan terbaik buat si Cantik.” Dia memperlihatkan pakaian itu kepada Mila.

“Bagus. Kamu mau pilih yang mana, Nak?” tanya Mila kepada anaknya.

“Terserah. Apapun pilihan Ibu, kalo Najla yang pake pasti tetep cantik.” Fauzan menatap calon istrinya. Namun, ada rasa kebimbangan yang menyelimuti hati Najla.

“Maaf, Tante, apa bajunya harus seperti ini?” tanya Najla memberanikan diri.

“Memangnya kenopo?” Mila menoleh malas.

“Apa tidak ada baju yang lebih pantas untuk saya pakai?” Najla meremas kedua tangannya yang terasa dingin.

“Jadi, kamu bilang baju ini ndak pantas?” tanya Mila.

“Bukannya seperti itu, Tante. Saya, kan, berhijab, jadi tidak mungkin memakai baju seperti ini,” jelas Najla.

“Saya tahu. Tapi untuk akad nikah nanti, kamu harus melepas hijab itu!” perintah Mila.

“Maaf, Tante, saya tidak bisa,” balas Najla.

“Kenapa? Ingat Najla, Fauzan itu berasal dari keluarga ningrat, jadi kamu harus mengikuti adat kami.”

“Tante, memakai hijab itu hukumnya wajib. Saya tidak ingin mendapatkan dosa karena melepasnya.”

“Oh, jadi maksud kamu dosa saya udah numpuk karena ndak pernah pakai hijab?” Mila menatap Najla dengan bara api yang terpancar dari sorot matanya.

Fauzan mencoba menenangkan sang ibu. “Bu, biar Fauzan yang bicara sama Najla.”

Mila mengangguk kesal.

“Naj, tolong kali ini kamu turutin permintaan ibuku. Ini demi kelancaran pernikahan kita,” pinta Fauzan.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn