Cerpen – Cinta Terhalang Adat by Iis Sumiati

Cerpen - Cinta Terhalang Adat by Iis Sumiati

“Iya, Bu. Fauzan cinta sama Najla dan Fauzan mau nikah sama dia,” tegas Fauzan.

“Nak, menikah ndak semudah itu. Apalagi kamu masih kuliah. Sebaiknya kamu selesaikan dulu segala urusan di kampus, baru nanti kita bicarakan ini lagi,” nasihat Mila.

“Tapi, Bu, Fauzan nggak bisa nunggu selama itu. Nanti gimana kalo Fauzan keduluan sama orang lain? Fauzan nggak mau Najla diambil orang,” ucap Fauzan.

Mila menarik napas panjang. “Nak, menikah itu sekali seumur hidup. Kamu harus pilih pasangan yang bibit, bebet, dan bobotnya itu jelas. Moso iyo Ibu harus besan sama orang miskin.”

“Bu, tapi Najla itu baik. Ibu juga pasti akan suka sama perangainya,” ujar Fauzan.

“Tapi Ibu ndak mau mempunyai menantu yang berbeda level, jauh di bawah kita. Nak, kita itu keturunan ningrat, jadi sudah seharusnya mendapatkan pasangan yang sederajat.” Mila tetap bersikeras pada pendiriannya.

“Bukannya sebelum menikah dengan Ayah, Ibu juga bukan dari golongan ningrat?” Fauzan memutarbalikkan perkataan ibunya.

Mila membulatkan matanya. “Itu masa lalu, ndak usah diungkit-ungkit lagi!” tegasnya.

“Lantas, apa bedanya dengan Fauzan dan Najla? Ibu dan Ayah saja bisa bersatu, kenapa kami tidak?” sergah Fauzan.

“Jadi, kamu ndak mau nurut sama Ibu?” tanya Mila.

“Sebelum Ibu izinin Fauzan untuk nikah sama Najla, Fauzan akan tetap memperjuangkan dia!” serunya.

“Pokoknya Ibu ndak akan pernah mengabulkan permintaan kamu!” Mila tidak habis pikir dengan tingkah laku anaknya.

“Baiklah, kalo Fauzan nggak bisa nikah sama Najla, lebih baik Fauzan mati!”

Fauzan berlari ke kamarnya yang ada di lantai dua. Dia berjalan ke arah balkon dan mengambil ancang-ancang untuk terjun bebas. Laki-laki itu sudah terlanjur sakit hati dengan ibunya. Fauzan tidak lagi memedulikan darah biru yang mengalir di sekujur tubuhnya. Dia akan tetap mencintai Najla, walaupun tidak ada yang mendukungnya.

Akhirnya perbuatan nekat itu berhenti. Mila dengan terpaksa menyetujui permintaan Fauzan. Dia tidak ingin kehilangan anak semata wayangnya. Hanya Fauzan yang saat ini dia miliki. Perempuan itu tidak ingin lagi mengulang rasa sakit, setelah kematian suaminya dua tahun lalu.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn