
Najla menunduk. “Aku nggak bisa, Zan. Kamu, kan, tahu kalo aku nggak mungkin lepasin hijab ini.”
“Kamu, kan, masih bisa pake hijab setelah kita menikah nanti.” Fauzan terus membujuknya.
“Agama itu syariat. Aku nggak mungkin seenaknya mempermainkan perintah Allah.” Najla tetap teguh pada pendiriannya.
“Tapi, Naj ak-.”
“Sudahlah, kalau memang dia ndak mau, lebih baik pernikahan ini kita batalkan saja!” potong Mila.
Artikel yang sesuai:
“Tapi, Bu ….”
“Saya setuju.”
Fauzan membulatkan matanya mendengar ucapan Najla. “Naj, kamu bercanda?” tanyanya memastikan.
“Aku serius. Lebih baik pernikahan ini batal, daripada banyak madharat yang akan terjadi,” ucap Najla menahan tangis.
“Ah, sudahlah, kamu ndak usah sok bijak. Anak ustadz kampung jangan ceramah di sini. Pergi sana!” usir Mila.
“Saya permisi, Tante. Assalamu’alaikum.”
Najla pergi meninggalkan Fauzan dengan luka yang teramat dalam. Hati kecilnya tidak sanggup menerima kenyataan ini. Namun, dia harus ikhlas dan melepaskan Fauzan untuk selamanya.
Air mata yang sedari tadi ditahan, kini tumpah tidak terkendali. Di tengah guyuran hujan, Najla terisak seorang diri. Dia harus merelakan Fauzan yang tidak mungkin dapat dimiliki.






