
“Mau sampai kapan, Dar, kamu begini terus?” tanya Gista menatap wadah salad buah di depanku.
“Aku mau sehat, Gist.” Aku tahu yang Gista maksud bukan apa yang aku makan saat ini. Tapi, aku sendiri juga tidak tahu jawaban apa yang bisa aku berikan sekarang pada Gista.
Satu bulan dan aku masih tenggelam. Masih saja dihantui bayang-bayang. Bahkan, semua terasa hampa tanpa ada yang tersisa. Bicaraku jadi datar. Tawa yang dulu ada mendadak hilang entah ke mana. Senyumku … aku tidak yakin itu benar-benar senyum atau hanya sekedar menarik ujung bibir ke segala arah.
“Aku serius, Dar. Kamu harus bangkit. Ingat, Dar! Dia saja sudah punya kekasih baru. Masa kamu mau terus-terusan berduka sendirian?” Dadaku sesak, nyeri mendengar apa yang Gista ucapkan.
Tanpa Gista mengatakan itu dengan menggebu-gebu pun aku sudah ingat dan tidak akan pernah lupa tentang itu. Pria yang kucintai, satu-satunya yang kupinta dalam doa, memilih pergi setelah sekian lama bersama. Aku tidak mau egois mengatakan dia jahat. Toh, semua juga ada andil sikapku di dalamnya yang membuat dia pergi.
Artikel yang sesuai:
Nikmatnya salad buah selalu saja bertambah asin oleh tetes air mata yang jatuh ke dalam. Lagi-lagi tanganku gemetar.
“Jangan mau kelihatan lemah gara-gara dia, Dar. Kamu harus kuat. Tunjukin kamu bisa tanpa dia.” Gista anggap kalimat ini sebuah motivasi.
Bukan hanya Gista. Teman-teman yang lain, bahkan keluargaku sendiri selalu berapi-api menyuntikkan motivasi obat patah hati ke telingaku. Mereka tidak mau melihatku menangis. Dan memang, sekuat tenaga aku menahan bulir itu jatuh di depan mereka. Aku harus tegar. Harus bangkit, seperti kata mereka.






