
“Nanti sore jadi ketemu Fadlan, kan?” Gista memasukkan sendok berisi nasi bergelimang kuah soto ke mulutnya.
“Hmm,” gumamku pasrah.
Gista terus berjuang membuatku lupa. Dia meyakini motto hidup orang patah hati kebanyakan yang bunyinya ‘Cara cepat move on adalah menemukan hati yang baru’ dan selalu dia ulang-ulang di dekat telingaku.
“Aku yakin dia orangnya baik, Dar. Nggak akan nyakitin kamu kayak mantanmu itu.” Aku hanya diam mendengar semua kalimatnya yang mulai terdengar klise bagiku.
Semua orang tidak ada yang bermaksud menyakiti orang lain dengan sengaja, bukan? Aku bukan membela dia yang telah pergi karena, nyatanya dia memang membuat luka di hatiku begitu dalam. Tapi, memang begitulah manusia.
Artikel yang sesuai:
Gista terus berkicau di depanku. Sayang, salad buahku habis lebih dulu daripada kicauannya. Aku terpaksa harus menyimak Gista setidaknya sampai mangkok soto itu kosong.




