
Gista melenggang manis di depanku. Usai jam kantor tadi dia tampak bersemangat meninggalkan gedung yang sudah dua tahun kami tempati itu. Gista menatapku dengan binar bahagia. Seolah ingin menularkannya ke dalam manik mataku yang kosong.
“Aku yakin kalian pasti cocok,” racau Gista berjalan selangkah di depanku memasuki sebuah kafe yang mulai ramai.
Jam pulang kantor adalah jam padat manusia yang sangat aku hindari. Selama ini setiap pulang kantor, aku selalu menahan diri di dalam gedung sampai jalanan tidak lagi penuh sesak.
Fadlan, teman Gista yang akan dikenalkan denganku, sudah menunggu di sebuah meja yang dikelilingi empat kursi. Ini pertama kali aku bertemu dengannya atas paksaan Gista. Dan dia lelaki kedua yang orang-orang gunakan untuk menjadi penawar patah hatiku.
Seperti perkenalan pada umumnya, aku dan Fadlan hanya saling tanya jawab tentang diri masing-masing. Agak kaku dan memang kaku. Terlebih aku merasa tidak begitu nyaman dengan kehadiran Gista di tengah-tengah aku dan Fadlan. Tapi, aku memang tidak mau dia pergi. Jangan sampai ada kesempatan berduaan dengan lelaki ini.
Artikel yang sesuai:
“Jadi, kapan aku boleh main ke rumah kamu, Dar?” tanya Fadlan tiba-tiba disela-sela obrolan kami. Aku membelalak sementara Gista tersenyum lebar mendengar keberanian temannya itu.
Kepalaku berdentum hebat. Ingatanku ditarik mundur ke masa lalu seketika. Tanpa sadar tubuhku terangkat, aku sudah berdiri dan menggeser kursi mundur beberapa mili ke belakang dengan kasar. Perasaanku tidak nyaman.
“Aku pulang duluan.” Kalimat itu terdengar jelas di telingaku, keluar dari mulutku yang bergetar menahan isak.
Kulihat Fadlan hanya diam tak berkedip mendengar ucapanku. Gista ikut berdiri dan berusaha menahan agar aku tidak pergi.






