
“Aku harus pulang, Gist,” ucapku menyentak tangan Gista tegas.
Tubuh ini bergerak limbung menuju pintu keluar. Memori lama menari di pelupuk mataku yang mulai basah. Tidak lagi kupedulikan orang-orang yang menatap heran. Mereka terlalu memandang buruk cairan bening yang menetes dari sudut mata manusia.
“Dara!” seru Gista memanggilku yang sudah berada di pedestrian. Aku harus pergi. Bukan pulang. Aku tidak ingin pulang dengan mata basah dan bengkak ini. Keluargaku tidak suka. Teman-temanku tidak suka. Semua tidak suka melihatku menangis.
“Cukup, Gist!” bentakku saat Gista berhasil menyusul dan mencengkeram lenganku. Sakit, tapi lebih sakit luka yang bersarang di hatiku saat ini.
“Kamu kenapa, sih, Dar? Apa Fadlan salah?” Pertanyaan yang tidak mau aku jawab selain membisu.
Artikel yang sesuai:
“Atau kamu marah sama aku? Aku cuma nggak mau lihat kamu sedih, Dar.”
Kalimat ini seolah jadi senjata ampuh untuk membuatku merasa bersalah atas kesedihanku. Apa mereka tidak memikirkan itu?
“Aku nggak butuh kalian kuatin, Gist. Aku nggak maksud buat kalian sedih karena liat aku sedih. Tapi, tolong, Gist. Aku memang sedang menyimpan kesedihan. Aku terluka. Aku sakit. Aku kecewa. Apa aku salah merasakan itu semua?”
Gista membisu di depanku.
“Aku nggak butuh nasehat, Gist. Sudah ratusan kali aku nonton youtube, dengar kajian Ustadz Hanan, Ustadz Hilman. Aku sudah kenyang dengan semua nasehat patah hati. Tapi, itu nggak berhasil buat aku sembuh dan merasa baikan, Gist. Kamu tahu kenapa?”
Kali ini Gista tetap membisu tapi kepalanya menggeleng.
“Yang aku butuh dari sebulan yang lalu cuma nangis, Gist. Cuma luapin kesedihanku. Aku butuh mengakui kalau aku sedih, Gist. Aku terluka. Aku sakit. Aku mau nangis. Aku bukan robot yang bisa diatur buat selalu bahagia. Aku punya fitrah perasaan, aku punya air mata. Aku berhak sedih dan menangis. Aku cuma butuh nangis, Gist.”
Kali ini, di tengah rintik hujan yang turun membasahi bumi, air mataku tumpah bersamanya. Dan Gista, atau siapapun itu, tidak bisa lagi melarangku dengan segala bujuk rayu atau kalimat motivasi penguat hati. Aku menangis. Sesuatu yang aku butuhkan untuk pulih.
Penulis: Ulva Yuni






