Cerpen – Biarkan Aku Menangis by Ulva Yuni

Cerpen - Biarkan Aku Menangis by Ulva Yuni

[Semangat, Nak. Yang lalu biarlah berlalu. Kamu harus maju ke depan.]

Baru saja aku mendaratkan ekorku di kursi, ibuku datang dengan nasehatnya lewat pesan singkat di ponsel. Pesan whatsapp itu menarik sudut mataku sejenak lalu dengan berat hati harus ku abaikan. Ibuku tidak akan tahu jika aku sudah membacanya. Aku sengaja mematikan centang dua biru dalam semua obrolan di whatsapp.

Setiap ibu selalu ingin anaknya bahagia. Tidak terkecuali ibuku. Kata-katanya yang selalu melarangku bersedih seolah ingin mengatakan bahwa kesedihan adalah suatu keburukan, air mata adalah tanda kelemahan. Dari kecil aku dilarang menangis. Meski akhirnya pecah juga, aku dipaksa untuk berhenti sesegera mungkin.

Dari balik mejanya, Gista menatap lurus ke arahku. Memastikan aku tidak murung atau melamun. Sejak kapan dia dibayar untuk jadi pengawasku? Gista harus berhenti jika ingin aku hidup normal kembali.

“Dar, kata Fadlan nanti di kafe dekat kantor jam setengah enam,” bisik Gista mencondongkan tubuhnya ke depan. Meja kami berhadapan persis menempel satu sama lain.

“Iya,” jawabku semakin malas.

Membuka hati untuk yang lain. Haruskah aku melakukan itu semua? Aku tidak punya pilihan lain. Aku lelah mendengar mereka selalu mengeluh setiap melihat wajahku yang muram. Dalih kesedihanku membuat mereka ikut sedih bukannya membuatku bertekad untuk bangkit, malah menambah kesedihan karena rasa bersalah.

Netraku menatap ke luar jendela ruangan. Langit biru pagi ini terlihat kabur di mataku. Perlahan berubah putih berkabut. Aku bisa merasakan ujung mataku memanas. Ada bulir yang tidak boleh jatuh di meja ini. Aku lekas mendongak, menarik bulir itu masuk kembali ke dalam mataku.

“Jangan menangis, nanti dia merasa bangga sudah membuat kamu terluka.” Kalimat Gista berdengung di kedua telingaku. Harus kuat … katanya.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn