
Beruntung nenek disusul oleh seorang pemuda yang juga merupakan pelanggan setianya, saat ia kebingungan akan keberlangsungan hidupnya. Pemuda bernama Setiaji itu kemudian menikahi nenek dan mengajaknya hidup di sebuah kampung kecil.
“Kenapa mereka harus bercerai, Nek?” Kedua sudut bibirku menurun. Kusuguhkan tatapan sayu untuk menanti jawaban darinya. Nenek diam saja, tapi sorot matanya seakan-akan menaruh rasa iba. Lantas tangan kanannya mengusap-usap pelan punggungku.
Cerpen – Lilin-lilin di Kamar Nenek by Zufarie Mariyanto
“Ayolah, Nek, ikut Widuri pulang ke rumah. Nenek pasti bisa bujuk ayah dan ibu,” mohonku sembari menelungkupkan kedua tangan di depan dada. Saat ini, kutaruh kepercayaan penuh pada nenek.
Namun, nenek menggeleng. Bibirnya tersenyum tipis. Tangan ringkihnya merengkuh pundakku. “Tidak, Nduk. Aku tidak punya kuasa. Keputusan mereka sepertinya sudah bulat. Aku tidak ingin ibumu tambah benci pada nenekmu ini.”
“Ibu itu anak nenek, apapun yang nenek katakan pasti ibu akan menurutinya!” Suaraku tiba-tiba melantang. Jujur saja, hatiku kesal pada jawaban nenek. Kenapa orang yang kuanggap bisa menolong dari situasi ini malah bersikap sebaliknya?
Artikel yang sesuai:
Aku terisak sejadi-jadinya. Kekuatanku runtuh detik ini juga. Nenek bergegas menopang tubuhku yang hampir limbung. Ia tak langsung membalas kemarahanku. Senyum teduhnya masih menghiasi wajah keriput nan ayu itu.
“Lebih baik kamu tenangkan diri dulu, Nduk. Tubuh dan pikiranmu butuh istirahat. Nanti kalau hatimu sudah agak tenang, kita cari jalan keluar bersama-sama, ya.” Nasihat lembutnya sedikit membawa kesejukan di tengah batin dan pikiranku yang memanas.
Aku mengangguk pelan. Kususuri jalan setapak ini dengan hati-hati setelah kurang lebih tiga jam menaiki bus. Kebetulan tadi aku dan nenek berpapasan saat ia sedang membeli terong di ladang tetangganya. Setibanya di depan rumah nenek, aku sangat terkejut.






