
Sinar yang menembus celah jendela tak nampak lagi. Perlahan, aku membuka mata dan berusaha memfokuskan pandangan pada layar ponsel yang baru kuambil dari bawah bantal. Pukul 00.17. Aku terperanjat. Tubuhku langsung bangkit. Rupanya aku ketiduran dari sore hingga tengah malam.
Cerpen – Lilin-lilin di Kamar Nenek by Zufarie Mariyanto
Dari pantulan cermin rias yang menghadap tepat ke arahku, kedua mata yang masih sangat berat ini mengamati wajah yang dipenuhi ketidakpercayaan. Tidak biasanya aku seperti ini setiap habis melakukan perjalanan.
Aku telah melewatkan makan bersama nenek. Tapi … kenapa ia tak membangunkanku? Rambutku masih acak-acakan. Aku segera keluar dari kamar dan mencari keberadaannya. Sayup-sayup terdengar suara bacaan tahlil.
Kakiku bergegas melangkah ke ruang depan. Pikiranku sontak bertanya, tengah malam seperti ini siapa yang sedang menggelar acara tahlil? Suara itu semakin lantang dan keras. Bukan terdengar seperti suara seseorang, melainkan beberapa orang.
Jantungku berdegup semakin kencang. Bulu romaku tiba-tiba meremang. Napasku berembus lebih cepat. Seketika sekujur tubuh ini menegang, bersamaan dengan tangan kananku yang bergetar saat menyingkap gorden coklat yang menutupi jendela.
Artikel yang sesuai:
Saat mataku mengintip ke arah pemandangan luar, penampakan keranda dengan kain hijau yang menutupinya dan rangkaian bunga yang menggantung di atasnya membuat bibirku menganga. Ternyata di kampung ini sedang ada orang meninggal. Tepat tengah malam.
Tak banyak orang yang ikut mengiringi. Tapi, tunggu … di antara para pelayat jenazah itu mataku menangkap dua pemuda yang berkunjung ke sini sore tadi. Kedua alisku beradu. Rasa heran kian menghinggapi.
Salah satu dari mereka tiba-tiba mengarahkan tatapan tajamnya ke arahku. Secepat kilat tanganku menutup gorden kembali. Ragaku berbalik arah. Peluh di dahi yang terus menetes kuusap perlahan.






