Cerpen – Lilin-lilin di Kamar Nenek by Zufarie Mariyanto

Cerpen Lilin-Lilin di Kamar Nenek

Aku berlari dan memanggil nenek berkali-kali hingga suaraku hampir tak terdengar lagi. Akan tetapi, tetap saja ia tak lekas menampakkan diri. Lantas, kucoba berjalan ke arah belakang. Melewati dapur dan beberapa ruangan kosong.

Dengan napas yang masih tersengal, aku menemukan sebuah ruangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ruangan itu gelap. Hanya menyisakan titik-titik cahaya yang nampak dari kaca jendela yang tertutupi kain gorden.

Cerpen – Lilin-lilin di Kamar Nenek by Zufarie Mariyanto

Kuputar kenop pintunya, ternyata tidak terkunci. Saat pintu terbuka, bau dupa yang menguar begitu kuat serasa menonjok hidungku. Rasa mual langsung menyergap. Aku dikejutkan dengan puluhan lilin yang sedang menyala.

Lilin-lilin itu membuatku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Ada ranjang kayu berhiaskan kasur dan dua bantal. Di sampingnya, terpampang tikar pandan, dupa yang berasap lekat beserta bunga tujuh rupa.

Aku baru ingat bahwa sedari tadi, mataku tidak melihat di mana kamar nenek. Pikiranku menduga sekaligus bertanya-tanya, beginikah penampilan kamarnya? Tubuhku mematung di tempat. Seketika pikiranku tak percaya jika neneklah pemilik rumah ini.

Pandanganku tentang kepribadian nenek seperti yang ada di dalam cerita-cerita ibu mulai mengabur. Seketika itu pula, aku meragukan bahwa ia adalah nenek kandungku.

Aku berusaha mengangkat kaki meski berat. Mataku remang-remang memandangi penampakan dua sobekan kertas di atas bunga-bunga itu. Kuperlebar penglihatan. Berkali-kali aku menelan ludahku sendiri, antara yakin dan tak yakin untuk mendekati benda-benda itu.

Segenap keberanian kukerahkan. Kakiku mulai bisa terangkat. Ragaku kian mendekat. Foto pengantin ayah dan ibu terbelah menjadi dua bagian.

Penulis: @zufarie_mariyanto

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn