
Dua tahun tidak berkunjung membuat penglihatanku pangling akan penampilan rumah baru nenek yang semakin besar. Tak seperti dulu yang kondisinya memprihatinkan. Dinding-dindingnya tak terbuat dari rotan lagi, tapi batu bata.
Tiang-tiangnya bukan dari kayu ataupun bambu, melainkan beton yang nampak kokoh. Ubin licin yang sedang kupijaki saat ini, mampu menampilkan wajahku yang masih muram. Benar-benar diluar dugaan. Kukira janda tua seperti nenek akan tetap hidup menyedihkan.
Cerpen – Lilin-lilin di Kamar Nenek by Zufarie Mariyanto
Ketika berada di mulut pintu, kening nenek berkerut, mimik terkejut terlihat jelas di wajahnya. Tiga orang tamu rupanya sudah menunggu di sebuah ruangan yang sempit dengan meja kayu kecil dan karpet.
Dua orang pria muda dan satu wanita paruh baya itu menatapku tanpa menggerakkan bibir mereka sedikit pun. Sontak, aku mengangguk sembari tersenyum. Namun, wajah-wajah itu tak berubah, tetap datar. Sorot mata mereka masih lurus menatapku, bukan ke arah nenek.
“Sudah dari tadi?” Suara serak nenek memecah keheningan.
Artikel yang sesuai:
Salah satu dari kedua pria muda itu kemudian mengalihkan perhatiannya. “Baru saja, Mbah.”
Nenek berbalik menatapku. “Widuri, itu kamarmu.” Telunjuknya mengarah ke sebuah pintu berwarna biru, letaknya cukup jauh dari ruangan yang sedang kupijaki ini.
“Kamu sekarang istirahat dulu, ya, Nduk, nanti nenek masakan makanan yang enak buat kamu.”
“Kata ayah, masakanku juga enak, Nek. Boleh, kan, nanti aku bantu masak?” tawarku tanpa ragu.
Seketika air muka nenek berubah. Senyumnya merekah. Ia sepertinya senang sekali jika aku menyebut ayah.
Nenek tak membalas tawaranku. Ia masih tersenyum, tapi tiba-tiba berjalan ke arah ketiga tamunya, lalu duduk di hadapan mereka. Aku melangkah pergi. Lagi-lagi hatiku dibuat kecewa dengan sikapnya. Seharusnya ia bisa menjawab dengan sepatah dua kata. Atau hanya dengan anggukan saja pun hatiku sudah lega.






