Cerpen – Lilin-lilin di Kamar Nenek by Zufarie Mariyanto

Cerpen Lilin-Lilin di Kamar Nenek

Tanpa berpikir panjang, aku segera meninggalkan rumah. Tak peduli mereka akan mencari atau tidak. Aku ingin mengadu pada nenek. Bukankah ia adalah orang yang tidak pernah mengharapkan orang tuaku berpisah?

Dulu, aku pernah mengira bahwa nenek akan membenciku, seperti ia membenci sikap ibu terhadap ayah. Namun, syukurlah pikiran jelekku itu salah besar. Saat aku dan ibu tiba di kampung terpencil ini, ia malah memeluk tubuh mungilku erat-erat. Sekarang, aku kembali menginjakkan kaki di sini seorang diri, dengan wajah muram dan senyum yang telah lenyap.

Cerpen – Lilin-lilin di Kamar Nenek by Zufarie Mariyanto

Ayah … Ibu … kalian sadar tidak? Yang kalian lakukan itu sangat melukai perasaanku. Hatiku bergumam.

Begitu sukar bibir ini melontarkan keluhan itu. Aku merasa putus asa. Robekan luka di batinku semakin menganga. Berapapun banyak air mata yang kuteteskan, kurasa tetap tidak akan mengubah keputusan mereka.

Sejak kejadian itu, aku punya predikat baru buat Ibu. Ia seorang pembohong ulung. Katanya, ia sangat mencintai ayah. Ia bilang, ayah adalah pria yang pertama kali mampu melumpuhkan perasaannya. Ayah adalah sosok yang sangat menyayangiku sebagai putri satu-satunya.

Ah, sudahlah. Semesta ini memang kejam. Apa yang aku angankan, sepertinya tak akan pernah menjadi kenyataan. Meski begitu, sampai kapanpun aku tak akan bisa membenci ibu. Biarpun alasannya untuk bercerai dengan ayah tak pernah bisa kuterima: ibu sudah tidak mencintainya lagi.

Lebih baik, sekarang aku memperhatikan wajah nenek yang amat menawan sebagai penawar dukaku. Ia dulu adalah seorang kembang desa. Dari cerita-cerita ibu belakangan ini, aku jadi tahu tentang kisah kelam nenek.

Di perkampungan yang ditinggalinya ketika masih muda dulu, ia sering dituduh sebagai perusak rumah tangga orang. Padahal nenek bukanlah wanita penggoda. Selama beberapa kali bertemu, aku juga menilai bahwa nenek adalah wanita yang kalem dan anggun. Pantas saja, dulu warung kopi miliknya selalu ramai.

Meski tak pernah melakukan perbuatan melenceng, tak lantas membuat hidup nenek aman. Istri-istri para pelanggan di warung kopinya murka. Tanpa mempedulikan nenek yang hidup sebatang kara, mereka mengusirnya dari perkampungan itu.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn