
Seperti permintaan Senja tadi Langit pun mengantar cewek itu pulang naik motornya, yang kebetulan sekali rumah mereka searah.
“Nanti kerumah gue naik apa?” Langit tau-tau bertanya.
“Emm.. dianter Abang mungkin, kalo enggak naik grab.”
Langit tak menyahut lagi, cowok itu diam, sibuk dengan pikirannya sendiri, entah apa itu.
“Langit!”
Artikel yang sesuai:
“Apaan?”
“Hehe, langitnya cantik ya”
“Gue cowok, ya kali cantik!”
“Ihh! Bukan kamu! Tapi langit diatas tuh, udah senja aja”
Beberapa saat cowok itu terdiam, namun ternyata menyahut kembali.
“Senja emang cantik! Tapi cuma sebentar, dia ga bertahan lama diatas sana. Keindahan bersamanya cuma bisa di nikamati sementara” ucapnya yang entah kenapa membuat Langit menyesal setelah mengucapkan kalimat itu.
“Aku bakal selamanya sama kamu kok, kalo kamu mau.. hehehe”
“Nggak mau tuh” ceplos Langit. Ia hampir saja tertawa, karena ia tau bagaimana ekspresi cewek itu sekarang, bahkan tanpa melihatnya.
“Ya udah kalo gak mau!”
“Cih, ngambekan!”
“Bodo amat!”






