Cerpen – Ephemeral by Fitria Salmaa Rosyidah

Cerpen - Ephemeral by Fitria Salmaa Rosyidah

“Ck! Kok nggak diangkat-angkat sih?!” ucap Langit mengomel sendiri, cowok itu telah mencoba menghubungi nomer Senja beberapa kali, tetapi tetap saja tidak ada jawaban dari cewek itu. Cowok itu berulang kali mengacak rambutnya sendiri karena frustasi. Perasaan putus asa dan menyesal melingkupi pikirannya, kalau saja ia tidak berusaha pura-pura lupa dengan janji yang ia buat hari ini, mungkin saja ia tidak akan merasa se-cemas ini.

“Langittt!” teriakan keras seorang cewek menghentikan langkah Langit, tanpa menoleh pun Langit tau siapa cewek itu. “Langittt! Aku tau kamu denger!”

“Astaga! Kenapa harus ketemu tuh cewek, sih?” Langit mendesis sebal, sambil mengangkat buku di tangannya dan menutupi wajahnya, lantas langsung ngeloyor begitu saja. “pura-pura nggak denger, puru-pura-pura nggak denger, pura-pura nggak denger …”

“Langit!”

“Huahh!” teriak cowok itu terkejut, bahkan hampir terhuyung kebelakang kalau saja ia tidak dengan sigap mengatur keseimbangan tubuhnya sendiri.

“LO?!” Langit menunjuk cewek di depannya dengan rasa shock, kepala kembali menoleh kebelakang ke arah ke sumber suara, tadi Senja memanggilnya, lantas kembali menatap cewek itu tak percaya, “lo gimana bisa—tad—tadi kan disana … tapi sekarang bisa langsung disini?”

Bukannya menjawab cewek itu malah nyengir, “Hehehehe, halo! Tuan Langit Bhaskara Dierja pahlawan kesorean aku!”

Langit masih menatap Senja dengan dengan tatapan tak mengerti, “Emang bener kata orang, ya kalo lo tuh bocah ajaib!”

“Huuu … ketauan ya tadi mau kabur, pura-pura nggak denger!” Senja berengut dengan raut kesal, “Dasar jahat!”

“Emang gue jahat!” Langit menukas cepat, “makanya ga usah deket-deket gue!”

“Enak aja! Kamu masih punya satu utang permintaan buat aku tau, aku baru ambil dua permintaan dan masih ada satu lagi.”

Langit menghela napas lelah, tampak putus asa. Yang Senja maksud permintaan adalah terkait tragedi Langit yang hampir menabrak cewek itu beberapa minggu lalu. Saat ia dirinya sangat merasa bersalah, karena saat itu Senja sempat dibuat pingsan karena terlalu shock, sebuah mobil hampir menerjang tubuhnya.

Saat itu layaknya orang normal yang bersalah, Langit meminta maaf pada cewek itu. Tetapi Senja bilang dia tidak akan memaafkan Langit sebelum Langit berjanji memberinya tiga buah permintaan yang Langit perlu penuhi. Dan karena tidak punya pilihan Langit menyanggupi syarat itu.

“Itukan udah lama, gue aja udah lupa! Udahlah ga usah!”

A promise is a promise Mr.Dierja” Senja tersenyum penuh arti padanya, “Cowok apa bukan? Katanya yang dipegang laki-laki itu jan—“

“Oke-oke! Iya!” Langit menyerah pada akhirnya, “Mau apasih emang?”

“Besok aku ada quiz! Ajarin ya? Ya ya ya?” ucap Senja tampak memohon, tetapi senyuman cerah tak pernah pudar dari wajahnya. Bikin cowok itu heran, sebenarnya terbuat dari apa Senja ini. Walau begitu Langit akui cukup sulit untuk memalingkan wajahnya kalau sudah dihadapkan dengan wajahnya manisnya seperti ini.

Langit menelan ludah, mencoba menormalkan tergorokannya yang seolah tersumbat sesuatu. Fix! Langit pasti udah gila, “Gue … gak janji,”

Binar dimata cewek itu redup, “Yahh.. kok gitu?”

“Mama, papa ga ada dirumah dan Laskar ga tau pulang kapan, ada acara disekolahnya katanya.” bohong Langit, sebenarnya ia jujur tentang bahwa orang tuanya tidak ada dirumah. Tapi tentang Laskar ada acara itu seratus persen bohong, pasalnya ia memang malas sekali keluar rumah hari ini. “Gue ga bisa tinggalin rumah dalam keadaan kosong”

“Oh, gitu ya” Ucap Senja dengan raut kecewa begitu kentara, “Padahal besok Quiz Matematika bab Induksi, susah banget!” Curhat Senja cemberut, membuat Langit tidak tahan untuk tidak berdecak kesal karena rasa bersalah merambat dihatinya tanpa permisi.

“Gue—“

“Ah! Tapi ga papa!” tukas Senja kembali bersemangat.

“Hah?”

“Ga papa, kalau kamu gak bisa dateng kerumah aku biar aku yang dateng kerumah kamu! Hehe.. gimana?”

“Lah, tapi gue—“

“Ga ada tapi-tapi! Pokok harus oke! Ya udah, sekarang udah sore waktunya kita pulang! Aku bareng ya?” tanpa menunggu persetujuan Langit, Senja langsung berjalan mendahuluinya menuju motor cowok itu terparkir.

“Astaga, ni anak!” gumam Langit mengomel sendiri.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn