
Tin tin!!
Langit tersentak, lampu lalu lintas didepannya telah berubah hijau, ia pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah Senja. Dengan dirinya yang tak pernah berhenti menghubungi nomor cewek itu. “Ayo! Angkat dong, Senja!”
“Halo..”
“Halo! Halo! Senja lo kemana aja sih? Gue telponin dari tadi juga!”
“Maaf, apakah ini keluarga dari saudari Senja Anantha?”
Artikel yang sesuai:
DEG!
Langit langsung menghentikan mobilnya mendadak, untungnya suasana jalan masih begitu lenggang. Cowok itu butuh waktu untuk kembali bersuara, ia menelan ludahnya susah payah berusaha menepis semua prasangka buruk yang bermunculan di kepalanya.
“Halo mas, bapak? Anda masih disana?”
“Ini siapa?” Langit berucap lirih, karena dadanya terasa sulit untuk sekedar bernapas.
“Saya dari pihak rumah sakit Adhyaksa, mau mengabarkan bahwa saudari Senja Anantha baru saja mengalami kecelakaan dan telah dilarikan ke rumah sakit kami. Dan—“
Tubuhnya terasa lemas, hingga ponsel yang digenggamannya jatuh begitu saja. Rongga dadanya terasa sesak, tangannya mencengkram kemudi mobil begitu kuat. “BEGO! BEGO! BEGO! SIAL*N!”
Tanpa berpikir lagi Langit langsung memacu mobilnya kembali dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit tempat Senja berada.
Sesampainya dirumah sakit cowok itu begitu kalap, seakan hampir gila kalau saja tidak cepat-cepat menemukan gadis yang dicarinya.
“Senja! Senja!”
Langit bertanya kesana kemari, hingga tubuhnya terhenti mendapati Dhira, sahabat Senja terduduk dibangku depan sebuah ruang rumah sakit. “Dhi—dhira!”
Orang yang dipanggil pun menoleh, raut sedih begitu kentara disana cewek itu berdiri menatap ke arahnya, “Dia—Senja gimana? Dia baik-baik aja kan? Dia nggak pa-pa kan? Ra?!”
Cewek itu tak bersuara, ia hanya menggeleng yang tentu saja membuat Langit frustasi, “Ra?! Please, jawab! Gimana keadaan Senja?!”
“Gue nggak tau Lang! Gue nggak tau!” Dhira menahan tangisnya susah payah, “Dia masih di dalem dan gue bener-bener nggak tau!”
“Tapi..” Langit mengepalkan tangannya, berulang kali memaki dirinya dalam hati karena kebodohannya sendiri. “Dhir, gue—“
Ucapan Langit terpotong oleh seorang paruh baya keluar dari ruang operasi lengkap dengan pakaian berwarna hijau melekat pada tubuhnya. Cowok itu langsung menghampiri sang dokter. “Dokter! Dok! Gimana keadaan Senja Dok, pasti baik-baik aja kan dok? Sem—“
“Maaf..”
Satu kata itu seakan mencabut jiwanya tanpa permisi, hingga sebuah bulir air jatuh dari matanya begitu saja.
“Nggak! Gak mungkin Senja..” Tangis Dhira pecah begitu saja, cewek itu langsung berlari masuk keruang operasi.
Sementara Langit cowok itu malah tertawa, kontras dengan arti matanya yang tak bisa ditahan. “Dok! Please bilang sama saya kalau ini mimpi.. a—atau kalo enggak bilang dokter lagi bercanda kan? Saya, saya—“
“Saya sudah berusaha sebisa saya, tapi saudari Senja benar-benar tidak bisa ditolong lagi. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, nak. Jadi inilah saat itu tiba.” Dokter itu pun pergi dari sana meninggalkan Langit yang masih mematung disana. Ia masih belum bisa mencerna segalanya, ini—ini terlalu cepat untuknya.
“Nggak! Ini pasti salah! Bukan! Pasti bukan Senja!” Langit langsung masuk ke ruangan tersebut menyusul Dhira yang telah mendahuluinya.
“Dhir—“ Disana tepat yang tertidur dengan mata yang tertutup, gadis itu gadis yang sama yang meminta tiga buah permintaan padanya. Gadis yang sama yang selalu tersenyum tanpa henti dengan wajah manisnya. Gadis yang selalu berteriak nyaring saat menyebut namanya dengan bibir mungilnya itu. Dia benar-benar gadis itu, Senja Anantha.
“Aku bakal selamanya sama kamu, kok kalau kamu mau.”
Langit berjalan mendekat, hingga dapat meraih tangan gadis itu yang kini tak sehangat terakhir kali ia menggenggamnya. Rona itu telah hilang, rona merah muda kesukaannya yang selalu mewarnai wajah putihnya itu telah hilang. Langit telah kehilangan Senja, cewek itu telah pergi.
Dan dia …
Tak akan pernah kembali lagi …
“Gue mau, Senja … gue mau sama lo selamanya … gue mau! Gue mau!” Suaranya serak dan gemetar, ia sadar segala apapun ucapan yang ia ucapkan sia-sia. Jika ada didunia ini yang paling Langit sesali, yang paling ia sesali adalah kehilangan Senja dalam hidupnya.
Senja telah direnggut dari Langit untuk selamanya..
Penulis: Fitria Salmaa Rosyidah






