
Setelah bertanya pada dokter, akhirnya mereka diperbolehkan pulang dengan catatan harus menjaga Elena secara ketat. Mereka telah sampai di rumah mewah nan megah yang sudah lama ditinggalkan. Untungnya mendiang suami Ratih meninggalkan tabungan dan aset lainnya hingga cukup untuk mereka bertahan sampai saat ini.
Cerpen – Dunia dalam Kertas Lipat by Nandang Setiawan
Dengan muka pucat, Elena masuk ke dalam kamarnya dan berbaring. Ia memeluk boneka kesayangannya yang amat ia rindukan. Boneka yang selalu menjadi mainan favoritnya.
Suasana kamar masih sama, dipenuhi dengan lipatan kertas origami. Diusia yang semakin besar, Elena belum melihat dunia sepenuhnya. Ia hanya tahu rumah sakit dan obat. Padahal, ia ingin sekali bermain seperti yang lain.
Menurutmu, dunia itu seperti apa? Yang Elena tahu, dunia itu seperti kertas lipat. Terlihat biasa saja jika dibiarkan, tetapi akan cantik jika dibuat berbagai bentuk.
Begitu juga dunia. Terlihat biasa saja jika kita menjalani tanpa semangat dan syukur, tetapi akan terasa luar biasa jika dijalani dengan penuh syukur. Apa Elena harus bersyukur dengan penyakit ini? Entahlah, dia masih belum menemukan jawabannya.
Artikel yang sesuai:
Tak terasa, pagi pun tiba. Elena beranjak turun untuk makan dan minum obat. Namun, saat sampai bawah tiba-tiba kepalanya berdenyut. Terasa nyeri yang begitu hebat, hingga akhirnya ia kejang. Ratih segera menghampiri dengan panik.
“Bunda sa … sakit,” erangnya.
“Astagfirullah, Elena kenapa begini? Hiks … Bunda telepon dokter Arkan. Bertahan ya,” ucap Ratih sambil terisak. Perlahan kejang itu mereda, tetapi rasa sakit di kepala Elena masih ada.






