Cerpen – Dunia dalam Kertas Lipat by Nandang Setiawan

Cerpen Dunia dalam Kertas Lipat

“Bunda, Elena gak mau ke rumah sakit lagi. Elena capek, boleh kan Elena pergi?”

“Elena jangan nyerah, kita ke rumah sakit sekarang. Pak Mus sedang di jalan,” jawab Ratih gusar.

Cerpen – Dunia dalam Kertas Lipat by Nandang Setiawan

“Bunda, Elena sangat nyaman di rumah ini, karena Elena merasa seperti tak punya penyakit. Rumah ini terasa damai dan tenang. Elena nggak mau ke rumah sakit lagi. Bunda maafin Elena ya, kalau Elena udah nggak ada, Bunda jangan sedih. Cari kebahagiaan Bunda akh ….”

Sakit kepalanya semakin menjadi, bahkan tubuhnya kembali mengejang. Mata Elena melotot akibat rasa sakit yang begitu menyiksa.

“Bun-da … Ele-na pergi ya,” ucap gadis itu disela-sela erangannya.

“Kebahagiaan Bunda itu kamu Elena, jangan pergi!” Ratih menjadi semakin panik.

Akhirnya pak Mus selaku satpam kantor mendiang ayahnya datang dan membantu mengangkat Elena untuk segera bergegas menuju rumah sakit. Matanya sudah menutup rapat dan tak kejang-kejang lagi. Hanya ada hembusan nafas yang semakin melemah.

Hingga sampai rumah sakit, dokter Arkan sudah siap dan membantu Elena menuju ruangan. Namun, ternyata takdir berkata lain. Gadis kecil itu sudah tiada. Ia sudah pergi sejak di perjalanan tadi.

“Apa kamu benar-benar tidak mau kembali ke rumah sakit sampai-sampai meninggalkan Bunda seperti ini?” tanya Ratih dengan wajah sembab.

Tak ada yang tak menangis menyaksikan kejadian tersebut. Para tenaga medis ikut meneteskan air mata. Begitu pula dengan dokter Arkan yang terisak melepas kepergian Elena. Sekuat apapun Ratih berusaha, jika takdir berkata lain maka ia tak bisa mengubahnya.

Saat ini, Ratih masih menutup pusara yang telah bertabur bunga. Di dalamnya ada anak semata wayangnya. Tak ada air mata, tetapi wajahnya begitu pucat, sedangkan tatapannya begitu kosong.

“Sekarang kamu terbang bebas, Nak. Tak ada lagi rasa sakit. Andai saja Bunda tahu jika maksud pulang yang kamu sebut adalah pergi selamanya, tidak akan Bunda biarkan kamu pergi ke rumah,” ujarnya dengan suara bergetar.

“Elena, pergi dengan damai ya Nak, semoga kamu bertemu dengan papa. Bunda ikhlas,” lanjutnya.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn