Cerpen – Dunia dalam Kertas Lipat by Nandang Setiawan

Cerpen Dunia dalam Kertas Lipat

Keesokan harinya, Elena terbangun dengan ibunya yang masih tertidur menggenggam tangannya. Ia tak berniat membangunkannya dan malah menatap langit-langit kamar. Entah kenapa perasaannya sangat sedih. Kenapa dirinya harus menjadi beban untuk sang ibu?

Cerpen – Dunia dalam Kertas Lipat by Nandang Setiawan

“Tuhan, kalau aku bisa sembuh tolong sembuhkan. Tapi kalau umurku tidak lama, tolong segerakan. Agar Bunda tak sedih lagi, agar biaya rumah sakit tak banyak. Bunda, maafkan Elena yang selalu menyusahkan,” lirihnya.

Tangannya mengusap rambut Ratih, hingga membuatnya terbangun.

“Sudah bangun? Mau minum, Nak?” tanya Ratih yang hanya dijawab dengan gelengan pelan.

“Bunda, maafin Elena yang selalu menyusahkan.”

“Kamu ngomong apa, sih? Bunda nggak ngerasa terbebani.”

“Bunda, aku mau bikin kertas origami.” Elena perlahan duduk, ia ingin membuat origami bentuk elang.

“Kenapa kamu selalu membuat sesuatu yang bisa terbang?”

“Bunda, aku selalu semangat banget buat sesuatu yang bisa terbang. Karena aku ingin terbang bebas. Aku ingin seperti burung ini, yang dengan bebas terbang kemana saja, tanpa ada hambatan sedikitpun,” jelas Elena yang membuat Ratih terenyuh.

“Bunda, aku tahu penyakit yang aku derita itu kanker otak, kan?”

Ratih diam seketika, ia bingung harus menjawab apa. Selama ini ia berusaha menutupi semuanya, tetapi pada akhirnya Elena tahu. Sepintar-pintarnya sang ibu menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga.

“Sekarang, Bunda tak usah menutupi apapun, karena aku tahu semuanya. Kalau bisa memilih, Elena sudah tidak mau tinggal di sini lagi, Bunda. Elena rindu rumah dan ingin pulang. Rasanya capek berobat tapi tak kunjung sembuh. Elena kasian liat Bunda yang terus berjuang,” jelas gadis kecil itu dengan wajah sendu.

“Sudah kewajiban Bunda untuk itu, Elena gak perlu sedih. Justru Elena itu penguat supaya Bunda selalu berusaha. Kalau Elena rindu rumah, hari ini kita pulang ya, tapi nanti kita kesini lagi. Kalau gitu, Bunda ke dokter Arkan untuk mendiskusikan ini.”

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn