Cerpen – Dunia dalam Kertas Lipat by Nandang Setiawan

Cerpen Dunia dalam Kertas Lipat

Elena tak punya teman. Hanya ibunya dan dokter yang ia punya. Meski sebenarnya kanker ini jinak yang tumbuh dengan lambat, tetapi dalam beberapa kasus kanker ini juga bisa tumbuh dengan ganas dan cepat.

Belum sampai di kamar, Elena kembali kejang hingga beberapa suster membantunya. Gadis malang itu kembali diperiksa oleh dokter yang menanganinya. Sudah dua tahun ia berjuang untuk sembuh, tetapi tak kunjung ada hasilnya. Walaupun demikian, sang ibu tetap semangat untuk anaknya supaya bisa sembuh.

Cerpen – Dunia dalam Kertas Lipat by Nandang Setiawan

“Ya Allah, lagi-lagi aku memohon tolong cabut penyakit anakku. Hamba sudah tak kuasa melihatnya kesakitan.”

Ratih, bunda Elena hanya bisa melihat dari luar. Tak ada air mata yang keluar, tetapi rasa kekhawatiran begitu jelas terlihat di wajahnya. Beberapa saat kemudian, dokter Arkan keluar dan menghampirinya.

“Bagaimana keadaan anak saya, dok?” tanyanya gelisah.

“Bisa kita bicara di ruangan saya, Bu?”

Mereka berdua meninggalkan Elena yang sudah terlelap dengan tenang. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di ruangan dokter Arkan.

“Begini Bu, menurut diagnosa saya, kanker yang ada pada otak Elena sudah masuk stadium 3 atau dikenal dengan Anaplastic astrocytoma, di mana pertumbuhan kanker ini cukup ganas dan menyebar ke bagian otak lainnya,” jelas dokter Arkan dengan hati-hati.

Hancur, itu yang Ratih rasakan saat ini. Bagaimana bisa ini terjadi pada anak semata wayangnya? Pikirannya berkecamuk.

“Apa anak saya masih bisa disembuhkan, Dok ?”

“Masih ada kemungkinan. Kita akan usahakan yang terbaik.”

“Kalau begitu, tolong lakukan yang terbaik supaya anak saya dapat sembuh, Dok,” pinta Ratih.

“Saya usahakan, karena itu bagian dari kewajiban saya.”

Ratih berjalan gontai. Perasaannya sangat takut. Ia bertanya-tanya, kenapa usahanya tak membuahkan hasil? Apa ini karma dari Tuhan? Tapi kenapa harus anaknya yang harus menanggung derita? Harus bagaimana lagi ia berusaha? Apalagi tabungan juga semakin menipis. 

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn