Cerpen – Amel dan Perlombaan Menggambar by Fita Arofah

Cerpen - Amel dan Perlombaan Menggambar by Fita Arofah

“Miko,” panggilku dan membuat ia menoleh.

“A-ada apa?” balas Miko dengan gugup. Apakah ia sadar bahwa tadi aku mengintip pembicaraannya dengan Pak Seto? Entahlah.

“Kau masih mengenalku, kan? Kita satu sekolah waktu SMP.” Miko menganggukkan kepalanya.

“Memangnya kenapa, Amel?” tanya Miko lagi.

“Aku …, ” Aku memperlama ucapanku karena sedikit ragu apakah Miko benar-benar melakukan hal ini atau tidak. Namun, yang kulihat tadi memang benar Miko, orang yang sama dengan Miko yang satu kelas denganku sewaktu SMP.

Aku berdehem untuk mengurangi kecanggungan. “Aku tahu apa yang kau bicarakan dengan Pak Seto tadi.” Yang kulihat, Miko nampak menegang setelah mendengar ucapanku.

“Aku tidak menyangka kau akan berbuat seperti ini. Hei, ini hanya lomba menggambar biasa, hanya perlombaan antarkelas. Bahkan hadiah yang kau terima saat juara tak sebanding dengan uang yang kau beri tadi pada Pak Seto.” Aku menghela napas panjang. “Sebenarnya apa maumu?”

Miko menunduk, aku tak tahu jalan pikir Miko. Ini hanya perlombaan biasa, tetapi Miko sebegitu kerasnya sampai memohon agar ia dimenangkan oleh guru.

“Kau tenang saja, Amel. Pak Seto menolak uang itu dan mau bersikap adil,” jawab Miko sembari menunduk.

“Lalu, mengapa kau melakukan hal itu?” tanyaku lagi yang masih dilanda penasaran.

“Aku, hanya tak mau membuat teman sekelasku kecewa.” Aku tak percaya dengan jawaban Miko yang satu ini. Aku memang tahu kalau Miko itu orangnya tidak enakan. Namun, tak seperti ini juga.

“Aku tak percaya,” kataku. “Jawab jujur saja, Miko, atau aku akan membongkar semuanya. Kau tahu, aku sudah merekam semuanya tadi,” sambungku mengancam Miko. Bukan mengancam, sih, hanya saja aku penasaran.

“Sebenarnya, aku tidak mau membuat teman sekelasku kecewa. Karena kalau sampai kalah, aku akan dirundung mereka. Ditambah kalau aku kalah, orang tuaku akan kecewa kepadaku,” balas Miko sungguh-sungguh. Aku terdiam kala Miko berkata demikian.

“Kau, dirundung? Hanya karena lomba ini? Hei, ini diadakan agar siswa bersenang-senang, bukan kompetisi menang,” ucapku geram dengan teman sekelas Miko.

“Aku akan melakukan yang terbaik.” Miko tersenyum dan mau tak mau juga membuatku tersenyum. Melihat Miko membuatku iba padanya.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn