
“Pak, saya mohon, biarkan saya menang lomba kali ini,” ucap Miko, pemuda yang memohon pada Pak Seto agar dirinya menang.
Pak Seto terlihat memijat pelipisnya, mungkin dia ragu apakah harus menyetujui, atau justru menolaknya. Aku berharap semoga Pak Seto tidak menyetujui permohonan Miko.
“Hei.” Aku terlonjak kaget ketika ada seseorang di belakangku. Aku menengok dan bersitatap dengan orang yang baru saja menepuk bahuku. Dia adalah Fera, siswi di sebelah kelasku yang juga akan ikut lomba menggambar.
“Kau sedang apa?” tanya Fera dengan alis mengerut. Aku bingung harus menjawab apa, aku ingin mengatakan perihal percakapan Pak Seto dengan Miko, namun aku masih ragu apakah Pak Seto menyetujui atau menolak Miko.
“Aku, sedang menunggu yang lain. Kau tahu, kan, pemilik kelas ini begitu ambisius, aku sedikit malu untuk masuk ke kelas ini,” jawabku dengan sedikit kebohongan. Mana mungkin aku mengatakan hal yang baru saja kulihat. Yang ada, Fera malah tidak percaya kepadaku.
Artikel yang sesuai:
Fera melirik ponselku yang tengah merekam sesuatu di dalam kelas. Aku yang tersadar pun seketika langsung mematikan rekaman itu dan menyembunyikan ponselku dari Fera. Fera menatapku dengan pandangan penuh tanya.
“Ponsel itu …, ” Fera menunjuk ke arah ponselku yang baru saja aku sembunyikan.
Aku cengengesan. “Bukan apa-apa, sebenarnya tadi aku ingin melihat keadaan kelas itu. Kau tahu, kan, kita masih kelas 11 dan belum pernah ke sini. Jadi, aku ingin mengabadikan momen dengan memotret kelas itu,” alibiku seraya berusaha menutupi kegugupan.
Fera masih terlihat belum percaya. “Kau berbohong, ya?”
“Tidak, aku berkata jujur,” sanggahku dengan kegugupan yang luar biasa. “Bagaimana kalau kita ke kantin dulu? Perlombaan masih dimulai setengah jam lagi, kan?” Aku mengajak Fera untuk pergi ke kantin. Walaupun berbeda kelas, namun hubunganku dengan Fera cukup baik karena kami berada di ekskul yang sama.
Setengah jam pun berlalu, aku dan Fera kembali ke kelas 12 IPA 1 untuk mengikuti lomba. Aku berjalan santai seraya mengobrol dengan Fera. Fera juga nampaknya sudah lupa dengan apa yang terjadi setengah jam yang lalu, dan itu membuatku lega.
Kami berdua memasuki kelas dan melihat para siswa yang sudah bersiap-siap untuk mengikuti perlombaan. Aku menengok ke arah Miko yang kini tengah menunduk seraya memainkan kedua jarinya dari balik meja. Aku pun berinisiatif untuk menghampiri pemuda itu.






