Cerpen – Amel dan Perlombaan Menggambar by Fita Arofah

Cerpen - Amel dan Perlombaan Menggambar by Fita Arofah

Perlombaan pun dimulai, aku berencana membuat gambar burung yang tengah terbang di sekitar hutan. Aku memang sangat menyukai hewan itu, bahkan di rumah ayahku memelihara burung. Terlihat juga Fera yang menggambar pantai. Memang tema kali ini bebas, dan kulihat juga Miko yang menggambar abstrak dengan nuansa gelap. Tiba-tiba saja aku berpikir bahwa gambaran Miko adalah suasana hatinya saat ini?

Lomba berakhir dengan tertib. Pak Seto meminta semua peserta mengumpulkan karyanya. Pak Seto nampak memilah dan menilai gambar masing-masing peserta. Aku tak berharap menang, karena aku mengikuti lomba ini hanya untuk bersenang-senang.

Siang hari, saatnya untuk pengumuman hasil lomba yang menang. Semua perlombaan sudah dilaksanakan, dan nampaknya para guru juga sudah menilai siapakah yang akan menjadi pemenang.

“Baiklah, anak-anak. Terima kasih kepada para siswa maupun siswi yang sudah berpartisipasi dalam perlombaan ini. Saya sebagai kepala sekolah berharap yang terbaik untuk sekolah ini, serta dengan adanya perlombaan ini, membuat siswa bisa kembali bersemangat untuk menuntut ilmu,” kata Pak Marco, kepala sekolahku.

“Untuk perlombaan ini diadakan agar kalian bersenang-senang, bukan untuk saling berkompetisi. Saya harap, kalian semua dapat menerima dengan lapang dada,” ucap Pak Marco. “Dan untuk pemenang, akan saya bacakan satu-persatu.”

“Pemenang lomba cerdas cermat …. ” Aku bertepuk tangan saat Pak Marco membacakan pemenang. Perwakilan di kelasku juga ada yang menang, dan itu juga turut membuatku senang. Ya, walaupun hadiahnya cuma makanan ringan atau alat tulis, namun aku turut senang.

“Dan pemenang lomba menggambar, dimenangkan oleh …, ”

“Miko dari kelas 11 IPS 3.” Aku menoleh ke arah Miko yang kini memasang wajah tak percaya. Aku bertepuk tangan karena tak percaya Miko bisa menang. Miko menoleh ke arahku dan aku membalas dengan senyuman.

Aku mendekat ke arah Miko yang saat ini masih belum percaya. Aku menepuk bahu Miko. “Selamat, ya.” Miko menanggapi dengan senyuman tipis.

“Kenapa?” tanyaku saat melihat Miko yang muram.

“Apakah Pak Seto membuatku juara karena kasihan?” Aku terdiam sesaat setelah Miko mengatakan hal itu.

“Tentu saja tidak, kau kan yang bilang sendiri kalau Pak Seto itu menolak pemberianmu, dan juga Pak Seto termasuk guru yang jujur. Aku yakin Pak Seto menilai bagus gambar kamu karena memang bagus,” ucapku meyakinkan Miko.

“Hm, mungkin saja,” balas Miko dengan nada lemah. Ia pun pamit pulang dan meninggalkanku seorang diri dengan pikiran berkecamuk. Namun, pemuda itu menghentikan langkahnya setelah dipanggil Pak Seto. Aku yang penasaran pun ikut mendekat, aku melihat manik Miko yang tampak kebingungan.

“Ada apa, Pak?” tanya Miko.

Pak Seto menatap Miko sembari berkata, “Selamat, ya. Saya benar-benar dibuat kagum oleh karya kamu, Miko. Walaupun saya sedikit kesal saat melihatmu memohon dimenangkan lomba, namun setelah saya tahu alasan kamu melakukan itu, saya bisa mentolerir itu.” Aku dibuat tercengang oleh perkataan Pak Seto.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn