Cerpen – Tajuk Mahkota by Annisa Syakirah

Cerpen - Tajuk Mahkota by Annisa Syakirah

Sesuai dengan perintah ibu, sebelum berangkat ke sekolah aku harus mampir ke warung Bu Dadang terlebih dahulu untuk menaruh tahu goreng. Semenjak kematian bapak, ibu harus membanting tulang memenuhi kebutuhan hidup kami. Selain menjadi tukang cuci baju, ibu juga seorang penjual makanan ringan keliling. Tapi, semenjak kaki ibu sering mengalami kram, akhirnya beliau menitipkan makanan itu ke Bu Dadang, tetangga kami.

Assalamualaikum, Bu Dadang. Ini tahu goreng buatan Ibu sudah matang.” ucapku kepada Bu Dadang setelah sampai di warungnya. Perempuan paruh baya itu sedang membersihkan warungnya yang baru buka. Wajar saja ini masih pukul 06.20 pagi.

Waalaikumsalam, Nak Syifa. Taruh di meja depan aja nanti Ibu rapihkan.” jawab Bu Dadang yang masih setia memegang sapu untuk bersih-bersih.

Setelah menaruh tahu goreng buatan ibu di meja depan. Aku segera berpamitan kepada Bu Dadang untuk pergi ke sekolah. Jarak antara sekolah dengan rumahku bisa dibilang cukup jauh, yaitu dua kilometer. Bagi orang yang tidak biasa berjalan jauh pasti akan kelelahan.

Setibanya di sekolah, aku langsung masuk kelas. Ruangan itu sudah cukup ramai dengan penghuninya, mungkin karena aku sedikit datang terlambat hari ini. Untuk mempersingkat waktu, aku segera berjalan menuju tempat dudukku. Di tengah perjalanan ada sepasang kaki yang menghalangi langkahku, sehingga aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Yahh, gitu aja jatuh. Mangkanya kalau jalan tuh pake mata!” gertak Ronald yang sedang duduk di kursi dekat tempatku terjatuh.

Gelak tawa murid di dalam kelas pun pecah setelah mereka melihat aku jatuh tersungkur di lantai. Aku merasa sangat malu dan marah. Aku berusaha untuk berdiri, tetapi ada seseorang yang menarik tasku hingga aku kembali terjatuh di lantai untuk yang kedua kalinya. “HAHAHA. Rasain tuh.”

Tawa mereka semakin kencang seakan sedang menonton sebuah pertunjukan komedi. Aku tidak mengerti kenapa aku selalu dijadikan target keisengan mereka. Aku sadar bahwa aku bukan berasal dari keluarga kaya raya seperti mereka, tapi apakah perbedaan status sosial mengharuskan mereka menjadikan aku target bualan.

Aku berusaha menahan air mata yang sebentar lagi mengalir di pipiku. Aku tidak kuat dipermalukan mereka seperti ini, rasanya begitu sakit. Ketika aku hampir menangis, ada sepasang tangan yang terjulur ke arahku. Aku mendongak untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut. Ternyata dia adalah Nadia, orang yang duduk satu meja denganku.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn