Cerpen – Tajuk Mahkota by Annisa Syakirah

Cerpen - Tajuk Mahkota by Annisa Syakirah

Semilir angin pagi menerpa kulitku dengan lembut. Membelai setiap bagian tubuhku membuat aku sedikit bergidik. Angin di sini cukup kencang dan dingin, tapi aku suka itu. Aku bersandar di ambang jendela kamarku sambil melihat pemandangan indah di luar sana. Dari sini aku bisa melihat betapa hebatnya kehidupan orang lain. Melihat mereka, memiliki rumah mewah, kendaraan yang memadai, dan kehidupan kaya raya. Menimbulkan rasa iri di hatiku.

Aku sering membayangkan kalau aku adalah salah satu dari mereka. Aku bisa mendapatkan apa saja yang aku inginkan dan bisa pergi ke sekolah tanpa merasa malu. Tetapi, semua itu hanyalah angan kosong. Rasanya seperti sedang bermimpi indah dan semua itu hilang dengan sekejap ketika kamu membuka mata.

Cerpen – Tajuk Mahkota by Annisa Syakirah

Di umurku yang menginjak dua belas tahun ini aku bersekolah di salah satu sekolah terpandang. Anak-anak di sana begitu menawan berbeda jauh denganku yang berpenampilan biasa saja. Hal itu membuatku malu.

Terkadang aku juga menjadi target keisengan mereka karena kata mereka aku “bau”. Kalian pasti merasa bingung kenapa aku bisa bersekolah di sana? Itu karena aku mendapat beasiswa. Setidaknya ada satu hal yang bisa aku banggakan dalam diriku, yaitu kecerdasanku. Tanpa beasiswa itu mungkin aku tidak bisa melanjutkan pendidikan karena ibu tidak memiliki cukup uang.

Seperti biasanya, pagi ini aku sedang bersiap untuk pergi ke sekolah. Memakai seragam, memasukan buku pelajaran ke dalam tas, dan menyiapkan segala kebutuhan lainnya. Setelah semuanya sudah rapih aku bergegas keluar kamar untuk berpamitan kepada ibu. Aku berjalan menuju dapur, tempat biasanya ibu melakukan aktivitas memasaknya.

“Syifa pamit ke sekolah dulu ya, Bu.” ucapku sambil menjulurkan tangan kanan hendak berpamitan. “Sebelum kamu ke sekolah bisa tolong Ibu sebentar, Nak?” tanya ibu sambil berjalan ke arah meja makan untuk mengambil sesuatu.

Beberapa menit kemudian ibu menyodorkan sebuah kotak makan yang berisi tahu goreng ke arahku. “Tolong antarkan gorengan ini ke warung Bu Dadang, ya. Soalnya Ibu masih sibuk sama cucian.” Jawab ibu sambil menunjuk tumpukan baju kotor yang berada di ember.

“Oke, Syifa berangkat dulu ya, Bu. Assalamualaikum.” Pamitku kepada ibu untuk yang kedua kalinya.

Waalaikumsalam.”

Tinggalkan Komentar