
“Hehh! Kalian tidak ada kerjaan lain apa? Bisanya mengganggu orang doang.” ujar Nadia ketus sambil menunjuk satu persatu orang yang tadi menjahiliku. “Yahh, Ga seru kamu, Nad.” Roland menimpali Nadia dengan tatapan jengkel. Ia merasa kesal karena usahanya untuk membuatku menangis gagal.
Aku menerima uluran tangan Nadia, kemudian kami berjalan menuju tempat duduk karena sebentar lagi jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
“Selamat pagi anak-anak.” Seorang guru memasuki kelas. Bu Gamal namanya, beliau adalah guru biologi kami. “Selamat pagi, Bu.” jawab seisi kelas dengan serempak.
Kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan kondusif. Banyak siswa fokus mendengarkan apa saja yang disampaikan oleh guru. Walaupun ada beberapa murid yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sehingga tidak mendengarkan materi pelajaran sama sekali. Waktu yang ditunggu tunggu akhirnya tiba. Pukul 14.30 adalah waktunya pulang bagi siswa Sekolah Menengah Mentari. Seluruh siswa berhamburan keluar sekolah untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
“Hmmm, Nadia. Tugas kelompok dari Bu Gamal tadi kamu mau ngerjain bareng siapa?” tanyaku pada Nadia. Aku ingin meminta Nadia menjadi teman belajar karena aku tidak memiliki teman di kelas ini selain dia. “Belum, Fa. Emangnya kenapa?” Mendengar kalimat itu aku merasa senang karena akhirnya aku memiliki kesempatan untuk belajar bareng Nadia.
Artikel yang sesuai:
“Kamu mau ngerjain bareng Aku, gak?” tanyaku lagi.
“Mauu. Aku seneng malah diajak belajar bareng sama orang pintar kayak kamu. Kita ke rumahku aja yuk sekarang. Biar tugasnya cepat selesai.” Ajak Nadia sambil tersenyum ramah. “Ayoo.” jawabku dengan cepat.
Sambil menunggu, aku dan Nadia berdiri di depan gerbang sekolah. Kami menghabiskan waktu dengan membicarakan hal seputar sekolah. Bagiku, Nadia adalah orang yang sangat baik. Walaupun dia terlahir dari keluarga kaya, tetapi dia tidak sombong dan masih mau berteman denganku.
Beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam mewah mendekat ke arah kami. Melihat hal tersebut membuatku sedikit tersentak. Ketika mobil itu sudah berada persis di depan kami, Nadia langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam mobil hitam tersebut. Aku tidak percaya dengan apa yang sedang aku alami sekarang. Rasanya seperti mimpiku jadi kenyataan. Akhirnya aku bisa merasakan duduk di salah satu kursi mobil mewah yang sejak dulu aku inginkan.
Dari dalam mobil ini aku bisa melihat pemandangan jalanan yang entah mengapa terlihat lebih indah. Mungkin karena aku terlalu merasa senang. Tak terasa perjalan dari sekolah menuju rumah Nadia telah berakhir. Sekarang kami sudah berada tepat di depan halaman rumah Nadia. Nadia segera menyuruhku untuk masuk ke dalam rumahnya. Aku hanya bisa memandang kagum sesisi ruangan di rumah ini. Bagaimana tidak, bagian dalam rumahnya sangat luas ditambah dengan dinding berwarna putih yang menambah kesan mewah.






