Cerpen – Tajuk Mahkota by Annisa Syakirah

Cerpen - Tajuk Mahkota by Annisa Syakirah

“Wahh, rumah kamu gede banget ya, Nad.” ucapku sambil menatap setiap sudut rumah itu.

“Hehe Makasih ya, Fa. Tapi, di rumah ini sepi cuman ada aku sama bibi,” jawab Nadia seadanya, “oh iya kamu tunggu di sini dulu, ya. Aku mau ke atas sebentar.” Nadia berjalan menuju tangga dan meninggalkan aku yang sedang duduk di sofa ruang keluarganya.

Aku duduk di atas sofa yang begitu besar dan empuk, hal itu membuatku mengantuk dan hampir saja terlelap.  Baru beberapa menit aku berada di sini, tapi rasanya sudah sangat nyaman dan tidak ingin pergi. Aku jadi membayangkan bagaimana rasanya hidup menjadi Nadia. Pasti sangat menyenangkan.

Dari kejauhan aku melihat Nadia yang sudah berganti pakaian sambil membawa tumpukan buku di tangannya. “Ayo kita mulai belajarnya.” ujar Nadia sambil menaruh tumpukan buku itu di atas meja.

Belajar di rumah Nadia sangat menyenangkan. Di sela waktu belajar aku ditawari makan sambil menonton film kesukaannya. Aku begitu menikmati keberadaanku di rumah tersebut. Hingga akhirnya hari sudah beranjak sore, itu tandanya aku harus kembali ke rumah.

Semenjak kejadian itu, aku dan Nadia semakin dekat setiap harinya. Kami melakukan segala aktifitas bersama. Dengan adanya Nadia sebagai temanku membuat keadaan di kelas menjadi sedikit lebih baik. Roland dan kawan-kawannya tidak lagi menjadikan aku target keisengan mereka.

Kemarin aku berpamitan kepada ibu untuk menginap di rumah Nadia. Dia mengajakku menginap di rumahnya karena ia merasa sangat kesepian. Orang tua Nadia sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk menemaninya. Satu hari menginap di rumah Nadia membuat kami saling memahami satu sama lain. Aku suka berbagi cerita kepada Nadia, begitu pula sebaliknya. Seperti saat ini, aku dan Nadia sedang berada di kamarnya sambil memakan makanan ringan.

“Nad, kayaknya Aku betah nginep di rumah kamu deh.” ucapku sambil tertawa renyah. “Bagus dong. Aku jadi ga sendirian terus dan punya temen ngobrol di rumah ini.” jawab Nadia sambil mengacungkan ibu jarinya tanda setuju.

“Oh iya, katanya kamu mau lanjutin curhatan semalam.” ucapku yang disambut antusias oleh Nadia.

“Jadi kemarin aku dapat kabar dari kedua orang tuaku katanya mereka bulan ini ga bisa pulang karena banyak urusan mendadak disana.” ujar Nadia dengan ekspresi sedih.

“Terus kenapa kamu sedih gitu?” tanyaku penasaran. “Aku kangen banget sama mereka. Aku pengen mereka bisa ngeluangin waktu buat aku. Aku cape sendirian mulu di sini.” jawab Nadia sendu.

“Bukannya enak sendirian di rumah, ya? Kamu bisa ngelakuin apa aja yang kamu mau. Apa Lagi dengan semua materi yang kamu punya ini. Seharusnya itu bukan masalah besar. Kalau Aku jadi kamu sih tetep bahagia soalnya ga ada orang yang bakal nyuruh Aku.”

“Tapi rasanya beda, Fa. Kehadiran orang tua itu lebih penting daripada segalanya. Aku malah rindu saat Aku membantu Mamah melakukan pekerjaan rumah,” Nadia menatap mataku dalam, “walaupun aku punya semuanya, tapi itu ga bisa gantiin kasih sayang mereka buat aku. Aku malah pingin jadi kamu yang setiap harinya dapat kasih sayang dari Ibumu.”

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn