Cerpen – Lebih Takut Kehilangan by Siti Khotimatun Hasanah

Cerpen - Lebih Takut Kehilangan by Siti Khotimatun Hasanah

Nina tidak sempat memikirkan keberhasilannya mendobrak pintu. Itu mencengangkan sekali, tapi ia tidak peduli. Langsung menghambur ke dalam, menuju kamar orang tuanya. Potongan kayu yang menyangga atap rumah ternyata sudah mulai berjatuhan. Warga berteriak panik melihat Nina nekat menembus kobaran api.

Warga yang lain terus berusaha menyiramkan air menggunakan ember; walau itu tidak sebanding dengan besarnya api yang terus menjilat-jilat tanpa ampun.

Mimpi sialan itu! Air mata Nina berjatuhan, ternyata orang tuanya sudah bangun, namun terjebak di dalam. Potongan kayu berkobaran api jatuh menghalangi pintu.

Nina menendang pintu itu, sekali tendangan langsung terbuka. Separuh sudah dilalap api. Ibunya terbatuk-batuk, napasnya mulai sesak. Nina memberikan kedua lengannya untuk ibu dan bapaknya, berjalan susah payah menerabas kobaran api. Isi pikiran Nina saat ini hanya satu: selamat dengan luka-luka bakar atau tidak sama sekali. Beruntung para warga tetap berusaha memadamkan api bagian pintu utama, membantu memberikan akses keluar untuk Nina dan orang tuanya.

***

Jagoan merah berhasil ditaklukan ketika semuanya sudah hancur menyisakan puing-puing kayu yang sudah menjadi bara. Orang tua Nina selamat, mereka terlalu banyak menghirup asap, sehingga saat ini diamankan di rumah salah seorang tetangga. Sementara Nina mengalami luka-luka. Kulitnya banyak yang melepuh tersulut api, tapi dia tidak terlalu peduli.

Ia duduk tak berdaya di halaman rumah, menatap potongan mimpi yang terakhir. Ia telah gagal mencegah mimpi itu berjalan tuntas. Habis sudah rumah masa kecilnya, rumah yang dua tahun tidak ia sambangi. Minat untuk pulang memang telah lama hilang, tapi menyaksikan rumah tempat orang tuanya berteduh musnah dilalap api, membuat hatinya pilu.

Dua orang berkedok itu, siapa mereka?

Warga berlalu lalang membereskan ember-ember, satu dua orang ada yang masih berusaha menyiram bara yang masih menyala merah. Nina menatap mereka satu per satu. Tidak. Semoga dua pelaku itu tidak sedang berbaur di sana, berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ia berharap.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn