Cerpen – Lebih Takut Kehilangan by Siti Khotimatun Hasanah

Cerpen - Lebih Takut Kehilangan by Siti Khotimatun Hasanah

Tidak seperti orang kebanyakan yang pulang ke kampung halamannya; membawa banyak barang-barang besar berisi oleh-oleh dan segala rupa,  Nina hanya menenteng satu tas tangan, layaknya ketika ia bepergian biasa di kota.

Sunyi. Tentu orang-orang masih terlelap. Nina menyusuri jalan setapak menuju rumah. Ada dua rumah tetangga yang harus ia lewati, sebab rumah yang ia tuju berada di paling ujung, dekat pohon bambu. Dari arah jalan sini ada sepetak kandang kambing dan pohon pisang sebelum kemudian tampaklah rumah masa kecilnya.

Nina melangkah pelan, seiring semakin dekat dengan rumahnya, jantungnya berdegup semakin cepat. Ia menghentikan langkah, persis di balik pohon pisang. Menahan napas, terkesiap dengan posisinya sendiri. Potongan mimpi pertama berkelebat di kepala. Di dalam mimpi Nina tengah berdiri persis di mana saat ini ia berdiri. Jantungnya terasa mencelus begitu melihat dua orang berkedok sedang membawa jerigen dan menumpahkan isinya ke rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu.

Jika benar mimpi-mimpi itu akan menjadi nyata, maka yang selanjutnya terjadi adalah dua orang itu menyulutkan api ke dinding rumah. Dan benar, kejadiannya cepat sekali, mendahului pekikan Nina. Ia segera berlari, meneriakkan ibunya sekencang mungkin, menubruk pintu rumah yang ternyata terkunci. Sementara Nina kalap berusaha mendobrak pintu, dua orang berkedok tadi segera melarikan diri.

Rumah yang berdiri dari anyaman bambu dan potongan-potongan kayu membuat api cepat sekali menjalar.

Nina seperti kesetanan, terus berteriak kencang dan mendobrak pintu sekuat tenaga. Suara gemeretuk api terdengar begitu ngeri di telinga, wajah Nina basah oleh air mata dan keringat. Ia amat takut. Secara bersamaan ia juga mengutuk mimpi-mimpinya.

Kambing tetangga mengembik keras, seolah membantu Nina membangunkan tetangga sekitar. Satu per satu tetangga mulai bangun, mereka langsung gaduh dan kalap melihat kobaran api yang menjilat-jilat rumah tua Sartika—ibunya Nina.

“Tolooong … ibuku di dalam, ibuku di dalam!”

Dua orang warga yang bertubuh besar membantu mendobrak pintu. Api hampir separuh melahap rumah. Sementara warga yang lain mengeluarkan ember-ember berisi air. Teriakan panik segera mengusir sunyinya dini hari.

Api makin membesar, panasnya sampai menyengat kulit apabila berada di jarak yang dekat. Dua warga yang membantu Nina belum berhasil mendobrak pintu. Mereka dengan terpaksa mundur karena tidak sanggup menahan sengatan api.

Di usaha terakhirnya, Nina mengumpulkan seluruh tenaga untuk mencoba sekali lagi. Dengan wajah bersimbah air mata, ia melemparkan tubuhnya ke pintu.

BRAKKK!

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn