Cerpen – Lebih Takut Kehilangan by Siti Khotimatun Hasanah

Cerpen - Lebih Takut Kehilangan by Siti Khotimatun Hasanah

Bapak dan anak itu saling terdiam, sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Nina sibuk memikirkan seandainya ia tidak memutuskan pulang sore itu, mungkin ia hanya bisa menatap jasad orang tuanya yang sudah menjadi abu. Lupakan peristiwa dua tahun yang lalu, karena faktanya pada hari ini, rasa takut kehilangan lebih besar daripada luka hatinya.

Nina merasakan bahunya disentuh lembut, ia menoleh. Sartika. Ia langsung menghambur ke pelukan wanita itu.

“Ibu.” Nina terisak. Ia takut tidak bisa memeluk ibunya lagi, ia jeri sendiri membayangkan kemungkinan yang ada di kepalanya.

Sartika mengusap lembut kepala Nina, sementara sudut matanya melelehkan butiran-butiran air mata. Telah lama ia menanti kepulangan putrinya. Selama dua tahun, hampir setiap malam Sartika menangis dan menyesali diri, yang kala itu tak sanggup mencegah kepergian putri semata wayangnya.

Malam ini mereka telah kehilangan tempat berteduh, sebagai gantinya permata yang mereka rindukan telah kembali ke pelukan.

Margono menyeka sudut mata, menunduk dalam. Dulu putrinya pergi membawa luka, kini kembali sebagai penawar rindu sekaligus menyelamatkan nyawanya.

Penulis: Siti Khotimatun Hasanah

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn