
Nina merasakan bahunya disentuh. Dia menoleh. Margono—bapaknya, ikut duduk di sebelahnya. Nina tersenyum kikuk.
“Maafkan Bapak, Nin.”
“Ibu sudah membaik?” Nina langsung membelokkan topik pembicaraan.
Margono mengangguk.
“Nin!”
Artikel yang sesuai:
Nina hendak berdiri, namun segera dicegah Margono.
“Berikan Bapak kesempatan bicara denganmu.”
Dengan berat hati Nina kembali duduk.
“Terima kasih sudah pulang. Ibumu selalu merindukanmu.”
Hening sesaat.
“Waktu telah mengungkap semuanya, tapi waktu tidak akan bisa diputar kembali. Fitnah itu tetap melukai hatimu, juga perkataan Bapak,” ada jeda, “maafkan Bapak, Nin.” Margono menunduk.
Kini bukan lagi potongan-potongan mimpi yang berkelebat di kepala Nina, melainkan peristiwa dua tahun lalu ketika fitnah keji menimpa dirinya. Ia difitnah melakukan perbuatan tidak senonoh dengan seorang pemuda di aula balai desa. Fitnah itu memang melukai hatinya, namun perkataan Margono kala itu jauh lebih menusuk hati dan perasaannya.
Nina memejamkan mata, mengenang kembali peristiwa menyesakkan itu. Mengingat mata para tetangga yang memandangnya jijik.
Satu tahun setelahnya, fakta di balik fitnah tersebut terungkap. Penyesalan melingkupi hati Margono, dulu secara tidak langsung telah mengusir putrinya.
“Apa yang membuatmu berbaik hati pulang, Nin? Bukankah perkataan Bapak terlalu menyakitkan untuk dimaafkan?”
Perempuan jalang! Tidak tahu diuntung! Merusak nama baik keluarga! Kau bukan anakku lagi!
Nina tersenyum getir, ternyata dia masih mengingat dengan baik perkataan bapaknya.
“Aku melihat dua orang dengan sengaja menyiram minyak tanah lalu menyulutkan api.” Nina berkata lirih.
Margono menarik napas dalam, terasa sesak. Makin menjadi-jadi rasa bersalahnya.
“Bapak sudah tahu, tapi tidak menyangka mereka akan melakukannya malam ini.” Ia menatap puing-puing kayu yang gosong. Para tetangga telah selesai membereskan ember-ember.
“Bapak menolak berjudi lagi setelah menang beberapa kali. Bandar dan pemain lain tidak terima, mereka mengancam. Dua orang yang kau lihat pastilah orang kalangan mereka.”
Nina diam, tidak terkejut jika bapaknya masih suka berjudi. Dan sejak dua tahun lalu dia sudah tidak peduli.
“Uang haram itu ikut hangus terbakar dengan rumah ini.” Tidak ada kesedihan di wajah Margono ketika mengucapkan kalimat itu. Ia mendongak, menatap kepulan asap tipis yang membumbung ke langit, kemudian hilang ditelan kegelapan.






