
“Makasih, ya!” katanya dengan lantang.
“Sama-sama,” balasku sambil tersenyum tipis, lalu membalikkan badan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Namun, anak perempuan tadi mencegahku dari belakang. Membuatku menoleh kepadanya.
Cerpen – Kesempatan by Yohanes Kurniawan
“Ada apa lagi?” tanyaku.
“Nama kamu siapa?” tanyanya balik.
“Oh, panggil aja aku Arvin,” jawabku.
Artikel yang sesuai:
“Halo Arvin, namaku Amena.” Dia mengulurkan tangannya seperti memberi sinyal untuk berjabat tangan.
“Salam kenal, Amena.” Aku menerima jabat tangannya.
Saat aku ingin melepas jabat tangannya, ia langsung menarikku. “Ayo ikut aku!” serunya. Langkahnya semakin cepat hingga aku harus berlari untuk mengimbangi.
“Kita mau kemana?” tanyaku dengan lantang.
“Udah ikut aja!” jawabnya.
“Stop!” teriakku spontan.
Amena seketika berhenti di depan gedung apartemen yang lokasinya beberapa meter dari taman tadi. Spontan aku berpikir dia mengajakku ke tempat tinggalnya.
Tempat itu terlalu mewah bagi seorang anak laki-laki yang setiap hari hanya berjualan pena.
Aku melihat jas hujan ini dipenuhi lumpur sehabis bermain di taman tadi. Seketika aku merasa tidak pantas untuk menginjakkan kaki ke dalam sana.
“Aku pulang aja, ya, takut nanti lantainya kotor,” ucapku.






