
Melihat dia menangis, aku mendekat di sampingnya. Aku sendiri bingung bagaimana cara menenangkan seorang gadis yang menangis.
Tanpa mengeluarkan kalimat apapun, Amena langsung mendekapku dengan erat. Apa ini? Kenapa ia mau mendekapku?
Cerpen – Kesempatan by Yohanes Kurniawan
“Kumohon, Vin, jadilah temanku. Aku ingin bisa membaca seperti yang lainnya,” katanya dengan tersedu-sedu.
“Pasti, Amena. Aku bisa mengajarimu sedikit soal membaca,” balasku.
“M-makasih.”
Artikel yang sesuai:
Setelah saling berdekapan, aku harus pamit pulang untuk membeli makanan dari 90 sen tadi. Aku turun ke lantai satu dengan tangga darurat. Karena aku tidak ingin terjebak di dalam lift yang entah bagaimana cara menggunakannya.
Aku keluar dari apartemen itu dengan terburu-buru hingga tidak sengaja tersandung, lalu terjatuh. Sebelum benar-benar pergi, aku menoleh ke arah apartemen itu.
Seketika aku terkejut. Karena ternyata apartemen itu sudah menjadi tempat terbengkalai.
“Terus aku tadi ketemu sama siapa?” tanyaku ketakutan.
Beruntungnya aku masih punya kesempatan untuk kabur dari apartemen iblis itu. Selama di perjalanan, aku berusaha melupakan apa yang dialami tadi, khususnya kue yang kumakan.
Apakah itu memang benar kue? Aku tidak tahu jawabannya.
Penulis: @mrjohnny92005






