
“Nggak boleh! Kamu ikut aku masuk ke dalam dulu!” jawab Amena dengan nada memaksa.
“Tapi nanti beneran kotor, lho,” sahutku seraya berusaha lepas dari genggamannya.
“Nanti dibersihin lagi kok, tenang aja!”
Cerpen – Kesempatan by Yohanes Kurniawan
Amena sekali lagi mengajakku untuk pergi bersamanya. Dari dalam sudah ada seseorang yang membukakan pintu masuk. Orang itu mengenakan kemeja merah dengan tulisan ‘Pelayan Pribadi’ di lengannya.
“Selamat datang kembali, Putri Amena!” sambut pelayan itu dengan ramah.
“Terima kasih, pelayan, tolong bawa kami ke apartemenku di lantai tiga nomor tujuh, ya,” kata Amena.
Artikel yang sesuai:
Pelayan itu segera membawa kami menuju lift yang tepat di sebelah pintu masuk, lalu naik ke lantai tiga. Hanya dalam sekejap pintu lift terbuka dan kami sudah tiba. Pelayan itu berjalan di depan, sedangkan Amena kembali menggenggam tanganku.
Lalu aku mengikuti langkahnya. Untuk pertama kalinya telapak kakiku bisa merasakan lembutnya beludru dari karpet merah di lantai. Kemudian kami sampai di depan pintu apartemen nomor tujuh.
Pelayan itu berpamitan untuk kembali bertugas. Kami berdua mengucapkan terima kasih saat pelayan itu sudah berjalan menuju lift. Amena melepaskan tanganku untuk mengambil kunci di bawah karpet.
“Ayo masuk, Vin,” ajaknya.
Aku segera masuk ke dalam apartemen, lalu ia menutup dan mengunci pintu. Aku merasa kebingungan dengan banyaknya tempelan alfabet yang membuat dinding tertutup.
Kemudian aku melepas jas hujan dan menyimpannya di samping milik Amena. Di ruangan tengah, aku melihat ada sebuah kue dengan lilin menancap di atasnya.
“Vin, kamu tau apa artinya ini?” tanya Amena sambil menunjuk ke kue itu.
“Kamu ulang tahun?” jawabku ragu.






